EURO 2008 & Nasionalisme


Guus Hiddink bak Raja Midas, yang mana setiap yang disentuhnya akan berubah menjadi emas. Betapa tidak, Tim Oranye Belanda yang memperoleh point penuh (9) dan sekalgus menjadi juara Grup dikandaskan oleh Rusia dengan angka telak 3 – 1.

Dengan kejeniusannya Guus Hiddink memanfaatkan kelebihan The Red Army Rusia dari sisi, disiplin dan kecepatan. Sehingga tim besutan Basten menjadi tidak berkutik dibuatnya.

Bagi Belanda ia mungkin dikutuk si pengkhianat. Demikian tulis Surya Online. Namun bagi Rusia, yang menunggu waktu 20 tahun untuk bisa menembus semi final EURO 2008, jelas ia adalah seorang pahlawan. Bahkan ia kini disebut Tsar Hiddink, sebuah jabatan ningrat terhormat Rusia tempo doeloe. Bahkan Presiden rusia Dmitri Medvedev akan memberi kewarganegaraan Rusia kepada Hiddink. “Dia tidak perlu pulang, kami bisa menjadikannya warga Rusia.”

Layakkah ia dicap sebagai pengkhianat?

Saya pikir tidak. Karena apa yang dilakukan si Guus itu adalah suatu profesionalitas dalam bekerja. Betapa tidak. Bukti keprofesionalisasian dia nampak pada saat World Cup 2002, membawa Korea Selatan hingga ke semi final atau sebelumnya membawa Belanda ke semi final Word Cup 1998 di Perancis. Kemudian membawa Australia menapaki Putaran Kedua pada Word Cup 2006 di Portugal.

Justu ia akan tampak sebagai tidak professional manakala harus meminta Rusia untuk mengalah kepada Belanda, demi menampakkan rasa nasionalisme dia.

Akankah ia mau melatih tim Indonesia, agar bisa menikmati aroma Piala Dunia 2014, atau 2018, atau 2022?

——-

Gambar Guss Hiddink naik kuda diambil dari sini.

Gelar Pahlawan untuk Soeharto: Patutkah?


 

Bung Karno dan Pak HartoGajah Mati Meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati? Meninggalkan nama. Soalnya sekarang nama yang harum atau nama yang busuk….

Beberapa waktu yang lalu, wacana pemberian gelar pahlawan untuk pak Harto dilontarkan oleh beberapa tokoh Golkar.

Setelah itu, seperti biasa, pro-kontra pun menggelinding bak snowballs (bola salju).

Para pengamat politik, para ahli politik, yang sedikit ngerti politik, atau yang pura-pura ngerti politik (contoh: penulis opini ini) saling adu argument soal soal setuju atau tidak setuju.

Yang tidak setuju, misalnya pengamat politik UGM, AAGN Ari Dwipayana, M.Si. menurutnya pemberian gelar untuk pak Harto dapat menimbulkan distorsi pada proses hukum yang saat ini masih berlangsung dan pemberian itu terkesan terburu-buru. Sementara kasus Bung Tomo yang sampai saat ini proses pemberian gelar pahlawan kepada dia belum juga selesai. Padahal, siapa yang tahu siapa itu Bung Tomo.

Sementara Muladi, Anggota Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, mengatakan bahwa kasus hukum Soeharto terkubur bersama jasad Soeharto di Astana Giri Bangun. Katanya: “Proses hukum semuanya sudah selesai. Pidana dan perdata sudah tutup,” sergahnya seraya mengatakan, kasus perdata berhenti ketika keluarga Soeharto menolak warisan dari kasus perdata Soeharto.

Bagi saya mestinya, usulan soal gelar itu ditunda dulu. Ini justru memperburuk nama Pak Harto sendiri. Kasihan beliau, belum kering tanah di makamnya, namun gunjingan kian tak terarah.

Sumber: Harian Surya, 31 Januari 2008.