Visit “Banjir” Indonesia 2008


Oleh Rhenald Kasali

monas-wikipedia.jpgSetelah 17 tahun tertidur, Indonesia kembali mencanangkan Tahun Kunjungan untuk merengkuh 7 juta wisatawan mancanegara. Bagi negeri berpanorama indah, jumlah ini terbilang kecil dalam segala hal, tetapi penting untuk memulai komitmen baru. Bagaimanapun, pariwisata terkait erat dengan lingkungan hidup, nilai-nilai sosial, investasi dan keamanan.

Meski demikian, saat bendera start dikibarkan, bukan berita indah yang muncul, tetapi banjir, kesemrawutan pengelolaan bandara, kemiskinan, flu burung, dan lainnya. Benarkah Indonesia berkomitmen membangun masa depan pariwisatanya?

Potensi pasar pelancongan

Setelah menghadapi berbagai tekanan (perang Irak, wabah SARS, tragedi WTC dan tsunami) sepanjang 2001 – 2004, pariwisata dunia bangkit kembali. Menurut World Tourism Organisation(WTO) kunjungan internasional 2006 mencapai 846 juta (tahun 2000, 684 juta). Kenaikan terbesar terjadi tahun 2006, 43 juta.

Dari tambahan itu, sebagian besar dinikmati Eropa (22 juta) dan Asia (12 juta). Sayang kenaikan pesat ke Asia itu belum dinikmati Indonesia yang terkesan pasif, kurang peduli.

Saat wisatawan ke Malaysia meningkat dari 16,4 juta menjadi 17,5 juta dan ke Thailand naik dari 11,5 juta menjadi 13,9 juta, Indonesia justru kehilangan 0,2 juta (dari lima juta) wisatawan. Berbagai masalah keamanan tidak diimbangi peningkatan pelayanan di bandara. Bahkan, terjadi pembiaran, perusakan lingkungan, ketidakmampuan menangani sanitasi (khususnya sampah), dan terakhir terlihat betapa amatir dan tradisionalnya penanganan bandara internasional dan bencana alam yang terjadi berulang-ulang.

Padahal, jika dikelola dengan baik, ekonomi pariwisata lebih prospektif ketimbang pertambangan yang menyisakan kerusakan lingkungan. UN-WTO memperkirakan pariwisata dunia tahun 2006 mencapai 733 miliar dollar AS. Bahkan 75 negara yang panorama dan kebudayaannya tidak begitu penting masing-masing berhasil meraih minimal satu m iliar dollar AS dari sector ini.

Bisnis ini menampung pekerja dengan spectrum amat luas, mulai dari transportasi, travels, perhotelan, telekomunikasi, hiburan, pendidikan, makanan, cinderamata dan perdagangan. Jika pariwisata berkembang, kita bias memindahkan ribuan sopir angkot yang sulit hidup dan memacetkan kota menjadi petugas antar jemput yang lebih sopan dan sejahtera…..

Perlu komitmen baru

Dengan anggaran promosi pariwisata yang terbatas (Rp 150 miliar) dan kurang siapnya daya dukung di bebagai sisi di dalam negeri, wajar bila kita bertanya: Benarkah Indonesia berkomitmen membangun pariwisatanya? Komitmen bukan pesan-pesan PR (public relations) bahwa kita benar-benar siap. Komitmen nampak dalam tindakan dan gerak irama yang saling mengisi, complementarity seluruh komponen bangsa dalam menghadapi segala kemungkinan.

Negara-negara yang komit, jumlah kunjungan wismannya naik signifikan. Komitmen itu bukan hanya urusan promosi wisata, tetapi juga urusan penerbangan, otoritas bandara, jalan tol, dan pemukiman yang dilewati wisatawan, pekerja yang santun dan berkualitas, imigrasi, lingkungan hidup, tata krama, kaum adat, pendidikan, industri, dan sebagainya…….

Dalam setiap proses evolusi, selalu ditemukan penuaan yang bukan disebabkan usia, tetapi karena tetangga berdandan, tampak lebih muda. Dan jika hal-hal seperti banjir saja tak bias ditangani, bukan cerita baik yang akan dibawa pulang wisatawan. Bukan sekadar backfired, sejarah akan mencatat Indonesia sebagai negara yang memperkenalkan kampanye baru, Visit Banjir Indonesia 2008.

(Dikutip dari Opini RHENALD KASALI, Visit “Banjir” Indonesia 2008, KOMPAS, Sabtu, 16 Februari 2008, halaman 6)

Visit Indonesia Year 2008 officially launched


The Jakarta Post, Jakarta

Wayang KulitThe government officially launched Visit Indonesia Year 2008 on Wednesday, with the main aim of luring up to 7 million foreign tourists and booking US$6.4 billion in foreign exchange income.

To help reach the target, the government is setting aside $15 million for a domestic and international advertising blitz.

“The budget will be used to finance the promotion campaign, especially abroad,” Culture and Tourism Minister Jero Wacik told a media conference before the grand launch of the program, which will be the second for the country.

The government held its first Visit Indonesia program in 1991, which was not particularly successful, increasing the number of foreign tourists by merely 400,000 from the year earlier, according to the Central Statistics Agency (BPS).

BPS data show that in 1991, around 2.5 million foreign tourists visited the country, from 2.1 million in the previous year.

This year, foreign tourist arrivals are expected to hit 5.5 million, well short of the 6 million targeted.

Jero said the ministry had so far bought advertising time on several international television channels.

However, the larger portion of the money will be used to finance international forums, where it can effectively introduce and promote the program.

Thamrin B.Bachri, the ministry’s director general, added that such forums would be held mainly in countries which traditionally provided the most tourists for Indonesia, such as Australia, Singapore, Malaysia Korea and China.

“These international promotion programs will take the biggest portion of the budget allocation.”

Wednesday’s grand launch was highlighted by performances from Indonesian singers such as Ruth Sahanaya, Rossa and pop band Ungu.

Last week, the ministry had to revise its tourism slogan when it was pointed out it was grammatically incorrect. “Celebrating 100 years of nation’s awakening” was changed to “100 years of national awakening”.

Garuda Indonesia was forced to repaint 10 planes servicing international routes that had already been daubed with the slogan.

Next year the ministry is set to organize more than 100 international events and cultural festivals across the country. (ndr)

Tulisan di atas adalah berita dari The Jakarta Post yang dikutip-tampil di situs Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia ( http://www.budpar.go.id )

visitindonesia2008logo.jpgSementara logonya yang bagus sudah beredar di mana-mana. Termasuk di samping ini.

Lebih dari itu, seorang May Huang, seorang gadis dari Hongkong, dalam situsnya (http://my-indonesia.info) yang bernilanya 17,5 Milyar rupiah itu (menurut mas Herman Saksono) menjadi testimoner untuk program Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 2008.
Saya tidak tahu, ini atas kehendak sendiri atau mendapat mandat dari Negara (Indonesia atau Hongkong). Yang jelas, dengan keberadaan situs ini, yang namanya Negara Indonesia bakal lebih dikenal – paling tidak dari sisi baiknya.

visit_indonesia_like_may_huang.gifUntuk itu, atas saran mas Herman saksono, saya dengan senang hati menampilkan badge bikinan beliau di bawah ini.
Jangan lupa, mari kita kunjungi situs May Huang. Mari kita dukung.
Hidup Indonesia.

Please, going to my country, please, people of the world….