Pembukaan PON XVII: Tanpa Greget


Pekan Olahraga Nasional XVII-2008 (PON XVII-2008) adalah Pekan Olahraga Nasional yang akan diselenggarakan di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia dari 5 hingga 17 Juli 2008. Awalnya direncanakan PON XVII akan berlangsung pada Maret 2008, namun KONI kemudian mengubah jadwal atas permintaan pihak penyelenggara akibat belum siapnya infrastruktur serta masalah dana.[1]

Pekan Olahraga Nasional XVII ini merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemerintah Kota/Kabupaten, KONI Provinsi beserta jajarannya dan seluruh masyarakat serta rakyat Kalimantan Timur. Hal ini ditegaskan dalam Surat Mendagri No. 426.3/983/SJ tanggal 16 Mei 2002 dan SK KONI Pusat No. 52 Tahun 2002 tanggal 8 Juli 2002

Meskipun lancar dan digelar di stadion megah, KOMPAS bilang bahwa acara pembukaan PON XVII 2008 di Stadion Utama Kalimantan Timur, Palaran, Samarinda, Sabtu (5/7) malam, terasa hambar. Hampir seluruh mata acara bersifat seremonial sehingga terkesan kaku dan monoton.

Koreografi ”Polah Gaya” garapan Djaduk Ferianto dengan 920 penari tak banyak menolong.

Ditonton 30.000 warga Samarinda dan sekitarnya, pembukaan PON XVII 2008— yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—itu tidak menyajikan acara spektakuler meski tata cahaya yang disediakan berkekuatan hingga 4 juta watt. Urutan acara tak berbeda dengan penyelenggaraan PON- PON sebelumnya.

Menjelang detik-detik terakhir pembukaan PON XVII/2008, KOMPAS.COM menyampaikan media center di areal lokasi Stadion Palaran jaringan internetnya tiba-tiba terganggu. Tak ayal, kondisi ini membuat kelabakan para wartawan yang memanfaatkan ruangan itu untuk mengirim berita melalui email. “Wah, kalau begini lebih baik main game saja,” ujar Firman dari Tempo.

Sejumlah wartawan lain pun ikut mengeluh. Bahkan, beberapa wartawan segera meninggalkan media center. “Cari internet di luar saja,” tutur wartawan lainnya kepada temannya. Ternyata bukan hanya jaringan internet yang terganggu, jaringan ponsel pun ikut terganggu. Beberapa wartawan yang mencoba menghubungi rekannya di dalam stadion tidak tersambung.

Ini tentu saja mengesankan bahwa Ajang PON masih dikemas secara amatiran. Masih merupakan kegiatan rutinitas. Nilai jual event PON – yang mestinya bisa tinggi – menjadi tak berarti lagi.

Advertisements