Preman Dalam Bahaya


Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri (lahir di Bogor, Jawa Barat, 10 Oktober 1952; umur 56 tahun) adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sejak 1 Oktober 2008.[1]

Sebulan setelah dilantik, langsung bikin gebrakan: MENYAPU PARA PREMAN!

preman2Preman berasal dari kata bahasa Belanda vrijman = orang bebas, merdeka. Fenomena preman (menurut Wikipedia) di Indonesia mulai berkembang pada saat ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi. Akibatnya kelompok masyarakat usia kerja mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, biasanya melalui pemerasan dalam bentuk penyediaan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Contoh:

  • Preman di terminal bus yang memungut pungutan liar dari supir-supir, yang bila ditolak akan berpengaruh terhadap keselamatan supir dan kendaraannya yang melewati terminal.
  • Preman di pasar yang memungut pungutan liar dari lapak-lapak kakilima, yang bila ditolak akan berpengaruh terhadap dirusaknya lapak yang bersangkutan.

Sering terjadi perkelahian antar preman karena memperebutkan wilayah garapan yang beberapa di antaranya menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Preman di Indonesia makin lama makin sukar diberantas karena ekonomi yang semakin memburuk dan kolusi antar preman dan petugas keamanan setempat dengan mekanisme berbagi setoran.

Di satu sisi masyarakat tentu gembira mendengar kabar ini. Di sisi lain (bagi pembela hak asasi manusia) justru kasih warning. Jangan asal libas, tanpa ada bukti. Karena pada dasarnya orang itu tak bisa ditangkap tanpa disertai bukti yang cukup.

Jangan sampai, perbuatan yang baik itu diakukan dengan cara yang tidak baik. Apalagi kalau gebrakan ini dilakukan sekedar hangat-hangat tai ayam. Lebih penting lagi, jangan kasus salah tangkap di Sidoarjo itu terulang lagi. Bikin malu.

Advertisements

Islam Bukan Preman, Bung…..


Ketika Islam hadir di bumi Arab, justru dizalimi oleh para preman jahiliyah. Dan ketika Islam hadir di bumi Nusantara juga tanpa memakai gaya preman.

Kini banyak orang yang merasa, bahwa Islam yang dilakoninya adalah Islam yang sebenarnya Islam. Tempo Edisi menampilkan Topik: Beriman Tanpa Jadi Preman. Dalam opininya ditulis antara lain:

KEPADA polisi ucapan selamat rasanya pantas diberikan. Mereka berani menahan dan menetapkan Ketua Front Pembela Islam Rizieq Shihab sebagai tersangka di balik tragedi Monas. Puluhan anak buahnya disidik seusai ”serangan fajar” yang rapi, tanpa bentrokan, tanpa perlawanan. Para dedengkot laskar berjubah putih dari Petamburan ini sudah pula diciduk, meski ada yang keburu jadi buron.

Langkah bagus bagi proses penegakan hukum, meskipun ada kritik ihwal keteledoran dalam pengamanan sebelum dan ketika tragedi di Lapangan Monas itu terjadi. Tak adanya benteng pengaman yang memadai membuat para laskar berjubah itu begitu leluasa menggebuki para aktivis dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan sampai babak belur pada 1 Juni lalu…..

Opini ini diakhiri dengan tulisan:

Setelah yang bersalah dihukum, jangan penyelesaian seperti masa lalu terjadi lagi. Bukankah polisi pernah mengeluarkan Rizieq dari tahanan polisi dan menjadikannya tahanan rumah, namun tak lama kemudian dia mencabut gugatan kepada polisi yang diikuti dengan pembekuan laskar. Privilese dan tawar-menawar dengan aparat model begini sudah harus diakhiri.

Negara harus menang. Ini hanya bisa terjadi manakala pemerintah berani bersikap tegas, termasuk kepada laskar yang bertindak atas nama Islam. Negara Pancasila ini harus diatur berdasarkan konstitusi dan hukum positif. Negara harus menjamin kebebasan beragama warga negaranya, juga memastikan agar pemeluk agama beriman tanpa menjadi preman.

Semoga ini semua bisa jadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa berbuat baik tak baik bila dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik.