Kantin Kejujuran: Hanya Sebuah Utopia


689ru_39KRISIS kepercayaan tampaknya sudah mengakar dalam sendi kehidupan negara kita. Banyaknya kerusuhan dan demonstrasi mengindisikan ada rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Krisis kepercayaan ini disebabkan oleh ketidakjujuran dari pemerintah kita. Korupsi merupakan suatu bentuk ketidakjujuran itu. Tindakan penyelewengan pemerintah terhadap amanat rakyat. Namun, untuk memberantas korupsi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak se-instant membuat mi. Perlu waktu panjang dalam mengubah keadaan ini.
Berbagai cara memerangi korupsi antara lain dengan pemangkasan generasi tua yang notabene dicap sebagai koruptor atau hukuman mati bagi pelaku koruptor seperti yang diterapkan di China, bukan merupakan langkah yang efektif dalam memberantas akar korupsi. Mengingat bahwa korupsi sudah menjadi budaya bangsa.

Hampir seluruh masyarakat mau tidak mau, merasa ataupun tidak pasti terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, untuk memberantas korupsi haruslah dimulai dari penanaman sikap antikorupsi (budaya jujur) dalam masyarakat dan harus ditanamkan sejak dini.

Hal ini dimaksudkan agar budaya antikorupsi mengakar pada jiwa individu-individu kecil, yang nantinya diharapkan menjadi benteng dari budaya korupsi atau budaya ketidakjujuran (budaya menipu) secara luas.
Salah satunya, menggalakkan pendirian “kantin kejujuran” yang dimulai dari tingkat sekolah. Kantin kejujuran ini memang sudah lama didengung-dengungkan oleh banyak orang.

Tetapi, belum ada pelaksanaan yang signifikan. Namun kemarin dalam memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia, sejumlah sekolah di Jawa Timur mulai menerapkan “kantin kejujuran” di lingkungan sekolah mereka (Surya 10/12/2008).

Dalam “kantin kejujuran” ini mereka mengambil makanan sendiri, membayar sendiri, dan mengambil kembalian sendiri. Suatu upaya yang cerdas dalam melatih kejujuran para individu-individu muda agar terbiasa berbuat jujur. Mungkin terdengar biasa, tapi bagi sebagian orang yang sudah terbiasa berbuat tidak jujur akan sangat sulit melakukannya. (Kantin Kejujuran, Zerry Mey – Surya live)

Niat yang baik ini nampaknya belum berjalan mulus. Buktinya, Kantin Kejujuran di SMUN I BoyolanguKabupaten Tlulungagung yang dilaunching 20 hari yang lalu, kini tutup akibat bangkrut.Pasalnya modal awal yang diharapkan bisa mencegah perilaku korupso sejak dini,ternyuata tidak kembali alias dikorupsi sebagian siswa. (Kantin Kejujuran Bangkrut – Harian Surya, 29 Desember 2008).

Menurut saya, adalah hol yang mustahal, bila anak-anak (baca: murid) disuruh jujur, manakala yang dewasa banyak yang belum mau berbuat jujur. Ibarat pepatah: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari. Bahkan ada yang mempelesetkan Murid (maaf) Mengencingi Guru.

Lebih baik perbanyak teladan, niscaya tanpa adanya kantin kejujuran, kejujuran akan muncul di setiap sanubari anak bangsa negeri ini.

Advertisements

2010 Hotspot Masuk Sekolah Menengah di Kota Malang


Hotspot (Wi-Fi) adalah salah satu bentuk pemanfaatan teknologi Wireless LAN pada lokasi-lokasi publik seperti taman, perpustakaan, restoran ataupun bandara. Pertama kali digagas tahun 1993 oleh Brett Steward. Dengan pemanfaatan teknologi ini, individu dapat mengakses jaringan seperti internet melalui komputer atau laptop yang mereka miliki di lokasi-lokasi dimana hotspot disediakan.

Pada umumnya, hotspot menggunakan standarisasi WLAN IEEE 802.11b atau IEEE 802.11g. Teknologi WLAN ini mampu memberikan kecepatan akses yang tinggi hingga 11 Mbps (IEEE 802.11 b) dan 54 Mbps (IEEE 802.11 g) dalam jarak hingga 100 meter.

Di Malang saat ini hotspot sudah mulai bermunculan di beberapa tempat. Meskipun masih jauh dari kebutuhan, namun cukup memadai untuk dapat memenuhi kehausan masyarakat akan pemanfatan fasilitas internet secara gratis.

Yang menggembirakan adalah berita yang ada di Surya Online Minggu, 4 Ahustus 2008. Dikatakan bahwa Depdiknas menargetkan 2010 sekolah menengah di Kota Malang sudah memiliki fasilitas hotspot. Tahap awal minimal akhir tahun ini sudah ada satu sekolah di setiap kecamatan yang ada di Kota Malang sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot. Tujuannya untuk meningkat efesiensi pembelajaran di sekolah, sehingga siswa tak perlu lagi mengeluarkan biaya yang besar untuk membeli buku setiap semester. “Dengan fasilitas intranet maupun internet yang bisa diakses melalui hotspot sekolah, siswa cukup memiliki sebuah flasdisk untuk belajar.

Dengan begitu siswa dapat mengakses semua kebutuhan pembelajaran mulai dari buku hingga alat peraga melalui teknologi informasi (TI),” beber Dr Ir Gatot Hari Priowirjanto, Ketua Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) Depdiknas saat menghadiri seminar Klub Guru di Aula Plasa Telkom Blimbing Malang, Minggu (3/7).

Dikatakan Gatot, program pencanangan hotspot ini akan menjadi motor bagi Depdiknas untuk mengembangkan berbagai kebijakan dan pemerataan fasilitas pembelajaran di seluruh tanah air. Di antaranya pengadaan buku elektronik. Untuk menghemat biaya buku maka siswa maupun guru bisa mengambil materi pembelajaran melalui buku elektronik yang tersedia di situs Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) Depdiknas.

“Sekolah pun dapat memperbanyak buku itu dengan memindahkannya dalam bentuk buku biasa. Maka dana yang dikeluarkan siswa dapat ditekan, dibanding harus membli buku pelajaran yang harganya puluhan ribu setiap judulnya,” jelas Gatot.

Untuk menunjang program pengembangan TI di sekolah, PT Telkom Malang bertekad akan memberikan diskon khusus para guru di Kota Malang. Setiap guru yang memasang fasilitas Speedy untuk mengakses internet hanya akan dikenai biaya Rp 50.000 setiap bulan. “Ini akan mempercepat penguasaan TI di kalangan guru,” jelas Didik Sukasdi, GM PT Telkom Kandatel Malang. (Surya Online)

Mudah-mudahan masyarakat di sekitar sekolah juga bisa memanfaatkan fasilitas hotspot tersebut. Sehingga dengan demikian akan semakin menyebar dan meluas penggunaan internet bagi masyarakat kota Malang.

Untuk Apa Sekolah Itu?


Ketika saya masih kecil (saat di SD) saya sering dinasihati oleh Bude saya bahwa saya harus sekolah agar kelak bisa pinter dan kalau sudah besar jadi Dokter.
Dan saya yakin, pada awalnya, para orang tua pada saat menyekolahkan anaknya, mempunyai keinginan agar anaknya menjadi orang yang pinter, cerdas – sehingga nantinya bisa berguna bagi keluarga, negara dan agamanya.

Namun, kini, keinginan itu sudah mulai bergeser sekarang. Karena para orang tua berharap agar anaknya mempunyai raport dan ijazah dengan nilai yang sesempurna mungkin. Untuk mencapai itu, tak heran bila penyelenggara bimbingan belajar jadi ramai peminat.

Lebih dari itu, ini yang bahaya, bahkan segala cara pun ditempuh. Seperti yang telah saya tulis di sana, seorang Ibu harus memerlukan ke paranormal agar anaknya bisa menjawab soal-soal UNAS. Ataua bahkan tak jarang (biasanya dilakukan para mahasiswi) mereka merayu Dosennya agar mendapat nilai bagus.

Jadi, kini, sekolah bukan untuk mencari ilmu, menambah wawasan, namun HANYA UNTUK MENCARI NILAI BAGUS. Hasilnya? Karena cara pencarian nilai itu membutuhkan biaya banyak, bahkan sampai merelakan kehormatannya, maka saat menjadi pekerja, maka yang dilakukan juga sama. Bagaimana caranya agar dapat uang banyak. Korupsi adalah salah satu pilihannya.

Oh, Indonesia. Bagaimana bisa disegani bangsa lain kalau warganya banyak yang tak berilmu, walau mempunyai IP yang tinggi.

Anakku Mogok Sekolah


 Tulisan ini diimport dari Djunaedi RD’s Blog.

Kalau anak saya yang pertama lahir normal, maka anak saya yang kedua harus melalui operasi/bedah caesar. Kenapa harus operasi, karena ada penyumbatan varises di rahim-nya. Sehingga, walau sudah genap berumur 9 bulan 10 hari, anak saya tidak juga mau keluar.

Alhamdulullah, proses operasinya berjalan lancar. Tak lebih dari satu jam, anak saya sudah menghirup udara dunia. Normal lagi. Saya, melihat keadaan ini, langsung sujud syukur. Pada saat itu tanggal 6 September 2004. Karenanya, pada waktu Pemilu Presiden Putaran Kedua (yang dimenangkan oleh pasangan Soesilo Bambang YudoyonoMuhammad Jusuf Kalla, kami tidak ikut berpartisipasi.

Namanya Muhammad Farrukh. Artinya kurang lebih Muhammad yang tampan. Mudah-mudahan tidak hanya secara lahiriyah, namun juga secara batiniyah. Ia kelak bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi agama, keluarga dan (kalau bisa) negara Indonesia.

Sekarang sudah masuk sekolah Playgroup.
Pada awal masuk sekolah, anak saya ini termasuk rajin. Pagi, jam 5, sudah bangun. Diajak mandi, tak pernah menolak. Begitu pula saat berangkat sekolah.

Namun, belakangan ini, anak saya menjadi rewel. Betul jam 5 sudah bangun. Namun saat diajak mandi, sulitnya setengah mati. Perlu dilakukan berbagai jurus bujuk rayu. Begitupun pada saat setelah selesai mandi, tidak serta merta mau berpakaian seragam. Ia selalu minta pakaian kesayangannya, yaitu baju kaos yang bergambar mobil (diambil dari film animasi cars atau film Spiderman.

Sebagai orang tua, tentu saja kami harus bisa menghadapi hal tersebut dengan sabar, tanpa disertai rasa jengkel. Apalagi rasa marah. Mudah-mudahan hal ini adalah merupakan siklus perkembangan anak, yang insya Allah akan baik kembali seperti anak-anak yang lain.