Hasyim Muzadi: Soeharto (masih) Pantas Jadi Pahlawan


Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai mantan Presiden Soeharto pantas memeroleh gelar pahlawan nasional dari Negara, demikian antara lain yang diberitakan oleh kompasdotkom.

“Soeharto pantas jadi pahlawan,” tandas Hasyim, yang kini aktif sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Internasional Cendekiawan Islam (International Conference of Islamic Scholars – ICIS), di Jakarta, Senin (18/10/2010).

Hasyim mengemukakan hal itu terkait masuknya nama Soeharto bersama sembilan tokoh lainnya sebagai calon penerima gelar pahlawan yang diajukan pemerintah berdasar masukan dari masyarakat yang mengundang pro-kontra.

Menurut Hasyim, mengukur jasa Soeharto terhadap negara tidak bisa hanya diukur atau dilihat dari suasana Indonesia hari ini. “Soeharto memulai kekuasaannya dalam suasana revolusioner. Tanpa Soeharto, Indonesia sudah menjadi negara komunis, tanpa Pancasila, tanpa UU 1945, dan tanpa agama,” tandasnya.
Diakuinya, Soeharto melakukan rehabilitasi kenegaraan dengan ongkos mahal. Pada 15 tahun pertama tampak gemilang, pembangunan berjalan pesat. Namun pada 15 tahun berikutnya mulai tampak kesewenang-wenangan, korupsi, dan nepotisme akibat sentralisasi kekuasaan.

Pada bagian lain Hasyim mengatakan, saat ini memang perlu dilakukan rekonsiliasi nasional agar negara tidak hidup dalam dendam.

“Apalagi kebanyakan kelompok PKI telah hidup normal bersama warga negara lainnya bahkan sangat banyak yang jadi santri bahkan jadi kiai mendirikan pondok pesantren. Sehingga rekonsiliasi nasional adalah sebuah keniscayaan,” katanya.

Advertisements

Beda Yayasan Supersemar dan Pak Harto


Menurut TEMPO : jawabnya : Yayasan Bersalah, Soeharto Tidak

cover_tempo.jpgDalam kasus penyelewengan dana Yayasan Supersemar, Soeharto dinyatakan tak bersalah. Kroni-kroninya senang.

Kabar gembira itu datang tak lama setelah sidang kasus Yayasan Supersemar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan selesai, Kamis pekan lalu. Majelis hakim yang dipimpin Wahjono menolak gugatan pemerintah atas almarhum Soeharto, dalam perkara penyelewengan dana yayasan.

Namun majelis hakim tetap menjerat Yayasan Supersemar dengan membayar 25 persen dari ganti rugi US$ 420 juta (Rp 3,8 triliun) dan Rp 185 miliar. Kelak, kewajiban yang mesti ditunaikan lembaga itu US$ 105 juta atau setara dengan Rp 950 miliar dan ditambah Rp 46,4 miliar. Sedangkan gugatan imaterial Rp 10 triliun tak dipenuhi oleh majelis hakim.

Sesudah Soeharto meninggal pada 27 Januari lalu, Mamiek dan lima saudaranya, kecuali Hutomo Mandala Putra, disorongkan oleh jaksa penuntut sebagai ahli waris kasus. Walau tak pernah hadir dalam sidang, dengan vonis ini mereka bebas dalam perkara yayasan.

Lantas kenapa Pak Harto bisa bebas dari vonis hakim? Alasan majelis hakim bahwa Soeharto sebagai pendiri yayasan tidak bersalah, menurut Aswan, yang bersangkutan sebelum lengser telah mempertanggungjawabkan kepada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dan itu diterima. ”Jadi tak terbukti melawan hukum.”

Jadi Pak Haro bisa bebas karena MPR (saat dipimpin oleh Harmoko) menerima pertanggungjawabannya. Nah, lu……

Yayasan Supersemar berdiri di era Orde Baru. Yayasan yang menjadi ”lumbung” dari setoran 5 persen laba bersih semua bank pemerintah ini bergerak di bidang sosial. Salah satunya memberikan beasiswa kepada anak pintar tapi secara ekonomi kurang mampu. Dalam perjalanannya, penyaluran duit melenceng ke sejumlah perusahaan.

Di antara perusahaan yang dikucuri modal yayasan adalah maskapai penerbangan Sempati Air milik Hutomo ”Tommy” Mandala Putra, Bank Duta, dan kelompok usaha Kosgoro. Berikutnya perusahaan milik Bob Hasan, salah satu kroni Soeharto, yaitu PT Kiani Lestari, PT Kiani Sakti, PT Kalhold Utama, PT Essam Timber, dan PT Tanjung Redep Hutan Tanaman Industri.

Jaksa pengacara negara Yoseph Suardi Sabda mengatakan, keputusan hakim terbalik. Mestinya bukan yayasan yang disalahkan, tapi orang yang membuat kebijakan. ”Di mana-mana kasus korupsi yang dijerat orangnya,” katanya. ”Badan hukum atau korporasi tak mungkin ada tanpa pengendali.”

Ia khawatir putusan majelis hakim menimbulkan preseden buruk apabila kasus ini berkekuatan hukum tetap, mengingat yayasan lain yang dikelola Soeharto semasa berkuasa diduga banyak yang menyimpang. Setelah kasus Yayasan Supersemar beres, menurut Yoseph, kejaksaan secepatnya mengajukan gugatan Yayasan Amal Bhakti Pancasila dan Yayasan Dharmais. ”Perjuangan kami belum selesai,” ujarnya kepada Tempo.

Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Rudi Satrio, menilai pertimbangan hakim membebaskan Soeharto karena pertanggungjawabannya diterima MPR tidak pada tempatnya. Itu pertanggungjawaban politis yang tidak bisa disandingkan dengan masalah yurtidis. ”Zaman itu, banyak pelanggaran hukum, tapi penegakan hukum lemah. Tak berani sama Soeharto,” katanya.

Dampaknya, Rudi menambahkan, kroni-kroni Soeharto yang nantinya menghadapi gugatan berkaitan dengan yayasan akan minta perlakuan serupa. Yang tidak masuk akal di sini, menurut Rudi, hakim memutus yayasan membayar ganti rugi.

Itu artinya, menurut Rudi, secara tidak langsung majelis hakim mengakui ada kesalahan dalam manajemen Yayasan Supersemar. ”Mestinya Soeharto dinyatakan bersalah,” kata Rudi, yang menganggap aneh keputusan hakim.

Koordinator Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch, Emerson Juntho, mendesak Kejaksaan Agung mengusut kasus Yayasan Supersemar melalui jalur pidana. Walau Soeharto telah meninggal, pengurus dan pemilik perusahaan penerima duit yayasan bisa dijerat ikut menyalahgunakan kekuasaan. ”Tidak ada jalan lain,” katanya.

JALAN MENUJU KEADILAN NAMPAKNYA MENEMUI TEMBOK YANG MAHA TEBAL. PERLU KEKUATAN YANG MAHA DAHSYAT UNTUK BISA MENJEBOLNYA.

Nampaknya ini ujian berat bagi pemerintah Orde (ter)Baru bin Orde Reformasi, menjelang Pemilu 2009.

Gelar Pahlawan untuk Soeharto: Patutkah?


 

Bung Karno dan Pak HartoGajah Mati Meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati? Meninggalkan nama. Soalnya sekarang nama yang harum atau nama yang busuk….

Beberapa waktu yang lalu, wacana pemberian gelar pahlawan untuk pak Harto dilontarkan oleh beberapa tokoh Golkar.

Setelah itu, seperti biasa, pro-kontra pun menggelinding bak snowballs (bola salju).

Para pengamat politik, para ahli politik, yang sedikit ngerti politik, atau yang pura-pura ngerti politik (contoh: penulis opini ini) saling adu argument soal soal setuju atau tidak setuju.

Yang tidak setuju, misalnya pengamat politik UGM, AAGN Ari Dwipayana, M.Si. menurutnya pemberian gelar untuk pak Harto dapat menimbulkan distorsi pada proses hukum yang saat ini masih berlangsung dan pemberian itu terkesan terburu-buru. Sementara kasus Bung Tomo yang sampai saat ini proses pemberian gelar pahlawan kepada dia belum juga selesai. Padahal, siapa yang tahu siapa itu Bung Tomo.

Sementara Muladi, Anggota Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, mengatakan bahwa kasus hukum Soeharto terkubur bersama jasad Soeharto di Astana Giri Bangun. Katanya: “Proses hukum semuanya sudah selesai. Pidana dan perdata sudah tutup,” sergahnya seraya mengatakan, kasus perdata berhenti ketika keluarga Soeharto menolak warisan dari kasus perdata Soeharto.

Bagi saya mestinya, usulan soal gelar itu ditunda dulu. Ini justru memperburuk nama Pak Harto sendiri. Kasihan beliau, belum kering tanah di makamnya, namun gunjingan kian tak terarah.

Sumber: Harian Surya, 31 Januari 2008.

Heaven or Hell for Soeharto….


2614767h.jpg01.10 Siang, Minggu, 27 Januari 2008, Pak Soeharto, Presiden ke-2 RI, arsitek Orde Baru, Pencipta P4, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Semua media nasional membuat head soal ini. Bahkan Majalah Tempo sampai perlu menampilan Cover Pak Harto, meskipun isinya lebih banyak soal lain – karena dead-line. sudah lewat.

cover-jakarta-post.jpgsoeharto-japos.jpgsoeharto-surya.jpgtempo-harto.jpgSetelah lebih dari 4 minggu menginap di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, akhirnya Tim Dokter Kepresidenan akhirnya angkat tangan.

Berpulang sudah Bapak Pembangunan Indonesia ke alam barzah.

Kemanakah Pak Harto akan pergi?

Go to Hell ❓ Go to Heaven ❓

Yang tahu tentu saja pak Harto sendiri. Karena kedua alamat tersebut telah dikenal baik oleh beliau. Cara-cara untuk mencapai ke sana juga sudah dipahaminya.

Bila Go to Heaven, tentu itu harapan yang paling afdol. Asal kebaikannya lebih banyak ketimbang keburukannya, niscaya akan kesana jua akhirnya.

Bila Go to Hell, ini pasti kebaikannya tak mencukupi untuk membayar keburukannya.

Kalau menurut Anda?

Wawancara Imajiner dengan Pak Harto


Headline Jawa Pos pagi ini berjudul: SBY Pilih Adili Soeharto.

Untuk menanggapi semangat pak SBY nggak ada salahnya saya kutipikan sebgaian wawancara mas Darminto dengan Pak Harto berikut ini:

soeharto2.jpg“Meskipun tersirat, Bung Karno sempat menyinggung soal gelombang separatisme yang belakangan melanda Indonesia karena perilaku salah pemerintah yang lalu, maksudnya pemerintahan Orde Baru. Bagaimana menurut pendapat Bapak?”

“He-he-ha… namanya daripada pembangunan itu, memang butuh daripada pengorbanan. Jer basuki mawa bea Ya, to? Jadi sudah sepantasnya sebagai saudara sebangsa dan se tanah air, pihak yang kuat harus membantu daripada pihak yang lemah. Jadi kita harus ambek parama arta. Mulat sarira angrasa wani. Sigra tan magita. Sedumuk bathuk, senyari bumi. Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh, aja gugupan. Ya, to? Ya, toh?”

“Saran Bapak untuk pemerintahan sekarang?”

“Kita ini kan bangsa daripada yang berbudi luhur. Jadi ya harus bisa melakukan daripada mikul dhuwur, menhem jero. Menghormati daripada jasa-jasa senior dan menyembunyikan serapat-rapatnya dosa-dosa dan kesalahan daripada sang senior itu. Sebagai pemimpin harus bisa mengamalkan daripada delapan kebajikan, seperti termuat dalam serat daripada Hasta Brata, begitu Pemimpin harus bertindak seperti daripada Matahari, Bulan, Bintang, Bumi, Angin, Laut, Api dan Air.”

“Kok Bapak nyontek Raden Ngabehi Ronggowarsito?”

“Ah, nggak apa-apa. Dia juga nyontek daripada Prabu Rama Wijaya.”

(Sumber, Wawancara Imajiner dengan Bung Karno dan Pak Harto, dalam buku tulisan Darminto M. Sudarmo, Anatomi Lelucon di Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, November 2004, Cetakan pertama)

Maafkan Pak Harto


Headline News media masa di tanah air (dan mungkin di luar negeri) fokus pada perkembangan kesehatan dan nasib Pak Harto. Bahkan kabar terakhir, sudah santer beredar isu kalau Pak Harto sudah meninggal dunia. Benarkah?jawa-pos.jpg
Jawa Pos Online, Sabtu, 12 Desember 2008 antara lain mewartakan : Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto tadi malam (12/1) memasuki titik paling kritis. Ini adalah saat-saat paling mengkhawatirkan selama delapan hari dirawat intensif di RS Pusat Pertamina. Begitu gawatnya, tim dokter yang merawatnya sempat memberikan keterangan lewat selembar kertas yang menjelaskan terjadinya kegawatan pada pukul 17.00.Dalam situasi kritis itu, seluruh putra-putri penguasa Orde Baru tersebut berkumpul di lantai V, tempat Soeharto dirawat. Biasanya, para anak Soeharto datang bergantian, tapi tadi malam mereka semua berkumpul. Probosutedjo yang masih dalam status terpidana di Lapas Sukamiskin, Bandung, pun ikut hadir.Sudwikatmono, salah satu kerabat dekat Soeharto, menceritakan semua anak Soeharto sudah hadir. “Keluarga sudah kumpul semua. Semua pada nangis,” ujar pengusaha yang berjaya di era Orba itu.Menurut sumber, yang selalu mendampingi Pak Harto di kamar 536 hanya Mbak Tutut. Semua keluarga yang lain hanya keluar masuk untuk melihat kondisi ayahnya.Suasana tegang saat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan istri muncul pukul 19.53. Ini adalah kedatangan kali kedua petinggi negara itu untuk menjenguk Soeharto. Kalla tidak bicara satu kata pun dengan wartawan. Dari raut mukanya terlihat begitu serius. Turun dari mobil langsung menuju lantai V.Kedatangan Kalla secara mendadak dan lengkapnya kehadiran putra-putri Cendana itu sempat memunculkan berbagai spekulasi di kalangan wartawan yang memadati lobi dan RSPP. Beberapa kabar yang tak jelas sumbernya menyebut Soeharto meninggal dunia. Berbagai SMS pun beredar mulai dari yang menyebutkan dalam kondisi kritis hingga meninggal dunia berseliweran….Di halaman lain muncul berita dengan judul: Korban HAM Tak Ingin Maafkan. Isinya antara lain : Sejumlah keluarga korban pelanggaran HAM (hak asasi manusia) pada era kekuasaan Soeharto kemarin menyempatkan diri ke RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Mereka berdoa supaya mantan presiden itu kembali sehat serta meminta agar kesalahannya sebagai pelaku kekerasan HAM tetap diusut.“Pemerintah dan politisi harus memandang keberadaan kami sebagai korban pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto,” tegas Bejo Untung, salah seorang korban pelanggaran HAM peristiwa 1965, di lobi RSPP kemarin. Bejo bersama sekitar 30 anggota keluarga korban pelanggaran HAM dari peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, penculikan 1997/1998, dan Trisakti 1998. Tampak pula bersama mereka Suciwati, istri aktivis HAM almarhum Munir, dan Koordinator Kontras Usman Hamid.“Atas nama kemanusiaan, kami ke sini adalah ingin mendoakan Soeharto supaya segera sembuh,” sambung Suciwati yang mengajak anaknya, Alif, ikut serta kemarin.Menurut Suciwati, segala dalih untuk memaafkan Soeharto karena sakit yang dideritanya saat ini bukanlah bentuk kemanusiaan. Jika dihadapkan pada nasib yang diderita para korban Soeharto di masa lalu, upaya tersebut sama saja dengan menghapus segala upaya yang dilakukan anggota keluarga korban pelanggaran HAM. “Kemanusiaan yang hakiki adalah kebenaran dan keadilan. Karena itu, kebenaran dan keadilanlah yang tetap harus ditegakkan di dunia ini, bukan menutupinya,” tegasnya. Menurut saya, memaafkan adalah perbuatan yang mulia ketimbang perbuatan minta maaf. Meskipun nantinya (mudah-mudahan saja) Pak Harto (kalau sempat) dan segenap keluarganya minta maaf kepada seluruh rakyat yang pernah “disakiti” tetap lebih mulia yang memberi maaf. Apalagi tanpa di minta.Hanya saja, memang (secara manusiawi) sulit orang untuk memberi maaf, tatkala mereka betul-betul pernah dizalimi oleh beliau.Kalau saya secara tidak pernah merasa dizalimi. Bahkan pada saat Orde Baru, beras sembako serba murah, BBM murah karena disubsidi, dll. dll. Dengan pendek saya merasa dienakkan oleh beliau.Bahwa kemudian ternyata mereka menjadi lebih enak ketimbang sebagian besar rakyat Indonesia, dan negara menjadi bangkrut, itu lain soal.

Golkar Bentengi Soeharto


Jawa Pos Online, Kamis, 10 Jan 2008,

soeharto.jpg

Anggota Wantimpres Tetap Minta Diajukan ke Pengadilan
JAKARTA – Partai Golkar tidak lupa dengan jejak masa lalunya. Kendati sekarang memproklamasikan diri sebagai ’Golkar Baru’, partai berlambang beringin itu tetap memberikan apresiasi kepada mantan Presiden Soeharto yang dulu menjadi ketua Dewan Pembina.

Partai yang menjadi mesin politik penguasa Orde Baru itu melakukan berbagai langkah untuk membentengi Soeharto yang kini tergolek dalam masa krisis kesehatan di RS Pusat Pertamina. Langkah pertama adalah mendesak pemerintah membebaskan Soeharto dari tuntutan hukum.

Tadi malam (9/1), para petinggi Golkar membentengi Soeharto dengan doa. Hampir semua pejabat teras partai tersebut menggelar zikir dan doa bersama untuk kesembuhan Pak Harto. Zikir yang digelar di kediaman Dinas Wapres Jusuf Kalla, Jalan Diponegoro No 2, Jakarta Pusat, dihadiri 120 pengurus DPP Partai Golkar dan Majelis Dzikir Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) Partai Golkar.