20 Persen TKI Jadi Korban Perdagangan Manusia


 

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan memperkirakan 20 persen tenaga kerja Indonesia menjadi korban perdagangan manusia.

Image

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan Jumat (21/6), diperkirakan 20 persen dari tenaga kerja Indonesia (TKI)  yang bekerja di luar negeri menjadi korban perdagangan manusia.

Saat ini diperkirakan ada 6,5 juta hingga 9 juta TKI yang bekerja di luar negeri, ujar Linda di sela-sela rapat koordinasi nasional perlindungan perempuan dan anak di Denpasar.

Linda mengatakan, berdasarkan data dari organisasi migrasi internasional (IOM), 70 persen dari modus perdagangan manusia di Indonesia berawal dari pengiriman TKI yang ilegal ke luar negeri. Pada periode 2010 hingga 2012, IOM mencatat terdapat 1.180 korban yang telah dipulangkan dan didampingi, ujar Linda. 

“Dengan kemajuan IT (teknologi informasi), itu juga salah satu kemungkinan yang bisa meningkatkan perdagangan orang, Makanya tadi saya sampaikan bahwa kemajuan informasi dan teknologi ini harus diikuti secara cermat dan juga pemberdayaan masyarakat khususnya kaum perempuan,” ujarnya.

Ketua Kelompok Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Bali Ni Nyoman Suparni meminta kepada pemerintah tidak hanya mencegah dan memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban. Pemerintah juga harus membebaskan biaya visum bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual, ujarnya.

“”Kalau masalah visum yang kami benar-benar kesulitan. Belum ada yang gratis. Mohonlah ada kebijakan untuk korban-korban pelecehan seksual dan anak yang berhadapan dengan hukum. Mohon ada kebijakan dibebaskan dan jangan dipersulit, kadang-kadang rumah sakit mempersulit, kalau belum bayar gak mau diambil,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyampaikan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap kejahatan perdagangan manusia, pemerintah provinsi Bali telah memiliki aturan hukum dalam bentuk Peraturan Daerah No. 10/2009.

“Sosialisasi perda ini terus dimantapkan, terutama untuk pencegahan dini dan penanggulangan tindak pidana perdagangan orang. Kita wajib bersyukur di Bali sampai saat ini belum ada  terindikasi kasus trafficking (perdagangan manusia) seperti ini,” ujarnya.

Dalam upaya pencegahan dan penanganan tindak pidana perdangan manusia kini telah terbentuk Pusat Pelayanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak korban kekerasan atau P2TP2A di 27 propinsi dan 197 kabupaten/kota. Selain itu sudah terbentuk gugus tugas di 27 provinsi dan 88 kabupaten/kota.

sumber : VOA Indonesia. 20 Persen TKI Jadi Korban Perdagangan Manusia

Advertisements

Perbudaan Di Era Modern


Seorang wanita kaya New York dijatuhi hukuman penjara 11 tahun karena memperlakukan dua wanita asal Indonesia seperti budak.
Varsha Mahender Sabhnani dan suaminya Mahender Murlidhar Sabhnani, masing-masing berusia 46 dan 51 tahun, juga melecehkan dua wanita Indonesia tersebut baik secara fisik maupun psikologis.
Pasangan ini terbukti bersalah atas 12 dakwaan bulan Desember lalu, termasuk dakwaan menampung warga asing dan memerintahkan kerja paksa. Demikian BBC Indonesia memberitakan.

Selain hukuman penjara, Varsha Mahender Sabhnani yang lahir di India ini dikenai denda 25 ribu dolar Amerika.

“Saya hanya ingin mengatakan saya begitu mencintai anak-anak saya,” katanya di pengadilan federal di Central Islip, Long Island, New York. Kedua anaknya yang berada di pengadilan hanya bisa memandangnya.
“Saya dilahirkan di bumi ini untuk menolong orang-orang yang memerlukan bantuan.”
Suaminya menangis ketika putusan dibacakan.

Pasangan kaya ini menjalankan bisnis parfum dan memiliki empat anak. Dua wanita asal Indonesia tersebut mereka pekerjakan di rumah besar mereka sebagai pembantu.
Pasangan ini memaksa dua wanita Indonesia bekerja hingga 18 jam per hari.
Mereka ditahan setelah salah satu pembantu asal Indonesia ini mengeluyur di jalan hanya dengan mengenakan handuk dan celana panjang.
Tim jaksa menyebut kasus ini sebagai “perbudakan di era modern”.

Mereka menggambarkan bagaimana dua pembantu ini dihukum karena terlambat tidur atau mengambil sisa-sisa makanan dari tempat sampah untuk menambah jatah makanan yang minim.
Kedua pembantu ini mengatakan mereka dipukul dengan sapu dan payung, disayat dengan pisau, dipaksa mandi dengan air dingin dan menaiki tangga berulangkali.

Salah satunya mengatakan dia dipaksa menelan saus pedas dan muntahan makanannya sendiri.
Hakim Arthur Spatt menyebut kesaksian ini “membukakan mata dan telinga bahwa hal-hal semacam ini bisa terjadi di negara kita”.

Keputusan soal ganti rugi belum dikeluarkan. Jaksa meminta hakim agar Varsha Mahender Sabhnani membayar ganti rugi sebesar 1,1 juta dolar.
Pengacara terdakwa mengatakan dua pembantu ini menggunakan ilmu hitam dan menyiksa diri mereka sendiri……….

Dua wanita asal Indonesia yang dikenal dengan nama Nona dan Samirah tiba di Amerika Serikat secara legal pada tahun 2002 namun paspor mereka diambil oleh Sabhnani dan sejak itu visa tinggal kedua warga Indonesia ini berakhir.