Uang Maha Kuasa


Dari ke hari ‘borok’ yang sudah lama mengering, nampak menganga lagi. Nanah, belatung, dan bau busuk menyebar ke mana-mana. Dan para pemilik borok saling lempar tangan sembunyi batu. Itu borok bukan miliknya, melainkan milik lain oknum.

Rakyatpun jadi bingung. Lantas, kalau semua saling lempar, siapa yang salah? Hingga kini belum jelas. Tapi yang pasti efek dominonya jelas. Sebagian rakyat tetap menjadi miskin di negerinya yang berlimpah akan kekayaan alam.

Apa ini merupakan azab bagi bangsa Indonesia, atau sekedar ujian agar kelak menjadi negara yang adi daya?

Seandainya yang namanya uang diletakkan pada posisinya, hanya sebagai alat saja, mungkin hal demikian tak akan terjadi.

Yang terjadi adalah Uang kini menjadi Maha Kuasa – mengalahkan Yang Maha Kuasa – Sang Ilahiah.

Seolah mereka itu bakal hidup 1000 tahun lagi. Lupa kalau mereka bisa saja mati esok hari.

Kita & Uang: Siapa yang Memperalat


Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.[1] Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.[2]

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efesien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efesiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

Pada awalnya di Indonesia, uang —dalam hal ini uang kartal— diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia, sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroi.

Singkatnya uang adalah sebagai alat.

Namun kini, nampaknya posisinya telah berubah. Sekarang uanglah yang memperalat kita. Ia jadi hidup dan berakal. Sementara kita jadi mati (hati) dan tak berakal. Apapun dilakukan asal bisa punya uang.

Dulu kita sering berpegang pada ungkapan bahwa Yang Maha Kuasa itu tak lain adalah Sang Khalik. Kini, yang terjadi Uang Maha Kuasa, itu Berhala Baru di Zaman Modern sekarang ini.