Alumni FH Univ. Brawijaya Daftar Bakal Cagub DKI Ke PKB


image

IndoElection.com, Jakarta – Satu lagi tokoh perempuan mendaftar sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Rabu (4/5/2016) siang, Notaris Trie Sulistiowarni SH SpN menyerahkan berkas pendaftaran Cagub ke kantor DPW PKB Jakarta.

Trie yang datang didampingi sejumlah tim suksesnya diterima oleh jajaran pengurus PKB DKI Desk Pilkada, diantaranya Muhammad Fauzi dan Heriandi. Menurut Fauzi, sejak pembukaan pendaftaran pada 11 April 2016 hingga saat ini sudah 15 orang yang mengambil formulir.

“Tetapi yang sudah mengembalikan formulir dan mendaftar resmi baru 7 orang, termasuk Ibu Trie ini. Mudah-mudahan nanti ada yang menyusul, karena pendaftaran akan berakhir pada 18 Mei nanti,” kata Fauzi di Kantor DPW PKB DKI Jakarta, Rabu (4/5/2016) siang.

Kemunculan nama Trie Sulistiowarni tentu mengejutkan banyak kalangan. Selama ini Bendahara Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) ini belum pernah disebut dalam bursa Cagub DKI. Menurut Trie, dirinya semula memang tidak berniat untuk maju dalam bursa calon Pilkada DKI.

“Saya memang bisa dibilang terlambat mendaftar, karena saya mendaftar justru di saat partai-partai lain seperti PDIP dan Demokrat sudah menutup pendaftaran. Tetapi di saat-saat terakhir ini cukup kuat dorongan dari sejumlah pihak. Setelah istikharoh akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar ke PKB,” terang alumni Notariat Universitas Airlangga Surabaya ini.

Meski mendaftar di saat-saat terakhir, Trie mengaku serius mencalonkan diri. Keseriusan itu disampaikan ketika ditanya jajaran pengurus PKB yang menerima pendaftarannya. “Saya tidak mugkin membuang-buang waktu dengan mendaftar kalau tidak serius,” tegasnya.

Trie sendiri mengaku terpanggil untuk mencalonkan diri karena gemas dengan berbagai problematika DKI Jakarta yang tak kunjung selesai. Sebagai seorang ahli di bidang pertanahan, Trie memang punya perhatian lebih di bidang pertanahan dan tata kota. “Secara garis besar, visi-misi kami mungkin ada kemiripan dengan kandidat lain seperti soal peningkatan pelayanan publik dalam arti luas, pembangunan yang mengedepankan budaya, pemerintahan yang bersih, dan sebagainya. Tetapi saya juga punya program khusus sesuai dengan bidang keahlian saya,” terang Direktur Eksekutif Pemberdayaan Masyarakat Pertanahan Indonesia ini.

Menurut Trie, problem utama DKI Jakarta sebenarnya bukan cuma soal kemacetan dan banjir. “Masalah yang tak kalah penting di ibukota adalah soal pertanahan. Munculnya berbagai persoalan yang kini berujung pada penggusuran seperti kasus Luar Batang, Kalijodo dan sebagainya itu adalah salah satu imbas dari tidak adanya kepastian kebijakan soal pertanahan di DKI Jakarta,” ujarnya.

Mengutip pemberitaan di media, Trie menyebut saat ini ada sekitar 6000-an bidang lahan di DKI yang tidak bersertifikat. Selain itu, masih banyak juga aset-aset Pemprov DKI yang tak memiliki status hukum yang jelas.

Kalau hal ini dibiarkan tanpa solusi, menurut Trie, maka ledakan masalah hanya tinggal menunggu waktu, mulai dari kasus sengketa kepemilikan hingga penggusuran. “Dampaknya, masyarakat kecil biasanya berada pada posisi yang dirugikan sehingga semakin terpinggirkan. Selain itu, aset-aset Pemprov yang tidak jelas kepemilikannya juga berpeluang untuk disalahgunakan pihak tertentu,” lanjutnya.

Menurut alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang ini, penyelesaian problem pertanahan di daerah-daerah pinggiran Jakarta tidak mesti ditempuh melalui cara penggusuran. “Pemerintah mestinya menempuh cara-cara yang lebih berbudaya dan manusiawi. Bahkan menurut saya, bagi masyarakat yang sudah menghuni lahan tak bersertifikat selama bertahun-tahun dan turun temurun, pantas mendapatkan program Prona, tentu saja bila memenuhi persyaratan sesuai perundang-undangan,” ujarnya.

Yang pasti, lanjut Trie Sulistiowarni, tantangan Jakarta ke depan tidak sedikit yang bersentuhan dengan problem pertanahan. Karena keterbatasan lahan akan mengarahkan pengembang untuk membangun hunian-hunian vertikal. “Kalau tren ini tidak disertai dengan kebijakan yang jelas dan tegas, maka berbagai masalah akan terjadi. Seperti sekarang sudah muncul banyak masalah kepemilikan di sejumlah apartemen. Jadi, kami lebih melihat masalah DKI ke depan,” pungkasnya. (feb)

Sumber :
http://indoelection.com/notaris-trie-sulistiowarni-daftar-bakal-cagub-dki-ke-pkb/

Gamal Albinsaid, Finalis Unilever Substainable Living Young Entrepreneurs Awards 2013


Gamal Albinsaid Finalis Unilever Living Young Entrepreneurs Award 2013Ide kreatif Gamal Albinsaid – Mahasiswa S2 Biomedik Universitas Brawijaya (UB) untuk mendirikan asuransi sampah terdengar hingga ke segenap penjuru dunia. Kreasinya ini menempati posisi teratas di ajang Finalis Unilever Substainable Living Young Entrepreneurs Awards 2013 yang Pertama.

Program penghargaan internasional ini dirancang untuk menginspirasi orang-orang muda di seluruh dunia untuk mengatasi isu-isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Kompetisi ini adalah untuk siapa saja yang berusia 30 tahun atau di bawahnya, dan penghargaan sedang mencari inspirasi praktis, solusi nyata untuk membantu membuat lumrah hidup yang berkelanjutan.
Dari 510 peserta dari 90 negara, tujuh finalis yang terpilih.

Para kandidat yang diajukan solusi yang terukur dan berkelanjutan dalam bentuk produk, layanan atau aplikasi yang memungkinkan perubahan dalam praktek atau perilaku, misalnya: sanitasi dan kebersihan, kelangkaan air, gas rumah kaca, limbah, pertanian berkelanjutan, dan membantu petani kecil.

Ketujuh finalis itu adalah :

Polly Courtice, CPSL Direktur mengatakan: ” Kami telah sangat terkesan dengan kekuatan dan keragaman pelamar di tahun pertama ini. Kami berharap dapat menyambut para finalis ke Cambridge dan mulai mendukung jaringan baru yang dinamis pemimpin muda untuk perubahan. ”
Para finalis akan mengambil bagian dalam program pembangunan empat minggu diikuti dengan lokakarya akselerator di Cambridge, Inggris, di mana bantuan ahli dan bimbingan profesional akan diberikan untuk membantu mereka mengembangkan ide-ide mereka. Ini akan diikuti oleh lapangan kepada sebuah panel hakim di London, yang terdiri dari pengusaha dan pemimpin dari bisnis dan keberlanjutan. Pemenang dan finalis akan menghadiri jamuan makan malam bergengsi di London pada 30 Januari 2014 di mana HRH The Prince of Wales Prize akan disajikan. Pemenang Hadiah akan menerima € 50,000 dukungan keuangan dan mentoring yang dirancang secara individual, enam finalis masing-masing akan menerima € 10,000 dukungan keuangan dan mentoring. Empat runner – up juga akan menerima program pengembangan on-line untuk membantu mereka mengembangkan ide-ide mereka.
Program 2014 akan diluncurkan di awal musim panas tahun depan dan pengusaha muda bersedia untuk participatecan mendaftar pada platform Ashoka Changemakers via www.changemakers.com/SustLiving(Link opens in a new window)