Tidur, Tertidur, Menidurkan Diri


Tidur adalah kebutuhan dasar manusia di samping makan dan minum. Tak ada manusia (normal) yang bisa hidup tanpa tidur sama sekali. Proses tidur biasanya diawali dengan rasa kantuk yang tak tertahankan.

YB. Mangunwijaya*) bilang: Saat kita mengantuk dan kemudian tahu-tahu kita sudah… hilang, seperti meninggalkan kehidupan. Kita tak kuasa lagi atas kesadaran kita dan segala kemauan seolah-olah hanyut dalam bengawan kegelapan yang melarutkan waktu. Waktu sudah tidak ada lagi di ujung kendali jam.

Oleh karena itu, lanjut Romo Mangun yang sudah almarhum itu, manusia yang tidur, secara langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar, sudah menyerahkan kepercayaannya kepada semesta alam………

Aktivitas tidur pada umumnya dilakukan pada waktu malam hari hingga menjelang subuh – ada yang berlanjut sampai fajar menyingsing. Dan tempat yang dipakai untuk melakukan aktivitas itu pada galibnya adalah tempat tidur.

Namum, karena adanya berbagai kesibukan, sering jadwal tidur itu bergeser waktunya.

Karena malamnya sibuk mengerjakan sesuatu, maka tidurnya akan dilakukan setelah pekerjaan itu selesai.

Tempatnya pun tak harus di tempat tidur. Bisa di ruang kerja, bisa di sofa, bisa di ruang siding atau di mana saja, asal bisa dilakukan dengan nyaman.

Kemarin, Bapak Presiden Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Pak SBY, marah-marah melihat orang tidur. Pada saat itu beliau tengah berpidato di hadapan mereka. Dan yang tidur bukan orang sembarangan. Bapak Bupati/Walikota/Anggota DRPD yang tengah menerima pembekalan di Lemhannas Jakarta.

Salahkah mereka itu?

Sebagai manusia, mereka tengah memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun sebagai pejabat pemerintah dan wakil rakyat, persoalanya menjadi lain. Apalagi pada saat itu sorotan media televisi juga menangkap aktivitas mereka.

Jadi, walau rasa kantuk sudah tak tertahankan, mereka seharusnya memang tidak boleh tidur atau tertidur atau menidurkan diri.

Untuk membunuh rasa kantuk bisa dilakukan dengan mencuci muka, atau main SMS, atau berbisik-bisik dengan teman yang duduk di sampingnya.

_____________________________

*) Ragawidya, Religiositas Hal-hal Sehari-hari, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Cetakan VIII, 1999.

Advertisements