MK Tolak Permohonan Prabowo-Hatta


Ekspresi kuasa hukum pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Mahendrata (kiri) dan Firman Wijaya (kanan) usai pembacaan putusan perselisihan hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden (PHPU Presiden 2014), Kamis (21/8) di Ruang Sidang Pleno Gedung MK. Foto Humas/Ganie

Ekspresi kuasa hukum pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Mahendrata (kiri) dan Firman Wijaya (kanan) usai pembacaan putusan perselisihan hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden (PHPU Presiden 2014), Kamis (21/8) di Ruang Sidang Pleno Gedung MK. Foto Humas/Ganie

Mahkamah Konstitusi memutus menolak permohonan perselisihan hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden (PHPU Presiden 2014) yang dimohonkan oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Dengan demikian, Mahkamah mengukuhkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih berdasarkan keputusan Komisi Pemilihan Umum.

“Dalam pokok permohonan, menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya,” kata Ketua MK Hamdan Zoelva mengucapkan amar putusan di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Kamis (21/8).

Mahkamah menyatakan seluruh dalil Pemohon yang menyatakan terjadi pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan masif pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu tidak terbukti. ”Mengenai dalil adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif, tidak terbukti menurut hukum. Demikian pula mengenai dalil lainnya yang tidak terbukti terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif yang secara signifikan memengaruhi perolehan suara Pemohon sehingga melampaui perolehan suara Pihak Terkait. Oleh karena itu, menurut Mahkamah, dalil Pemohon tidak beralasan menurut hukum,” ujar Hakim Konstitusi Ahmad Fadlil Sumadi.

Menurut Mahkamah, Pemohon mempersoalkan Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) yang dinilai dimanfaatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memobilisasi massa memilih calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla di sejumlah provinsi, di antaranya Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Timur yang tidak beralasan menurut hukum. “Pemohon tidak memiliki bukti kuat bahwa pemilih DPKTb dimobilisasi oleh Termohon untuk memilih calon presiden nomor urut 2. Menurut Mahkamah, pemilih yang terdapat dalam DPKTb tidak diketahui memilih capres yang mana,” ujar Hakim Konstitusi Aswanto membacakan pertimbangan hukum.

Lebih lanjut, dalil Pemohon yang menyatakan jumlah seluruh pengguna hak pilih tidak sama dengan jumlah surat suara yang digunakan dan surat suara yang digunakan tidak sama dengan jumlah suara sah dan tidak sah, sehingga merugikan Pemohon, menurut Mahkamah Pemohon tidak memiliki cukup bukti. “Pemohon tidak memiliki cukup bukti yang meyakinkan Mahkamah bahwa pemilih dimobilisasi oleh Termohon untuk memilih capres nomor urut 2. Pemohon tidak dapat membuktikan bahwa ketidaksesuaian jumlah pengguna hak pilih dengan surat suara yang digunakan hanya merugikan pemohon dan ditujukan untuk memenangkan pihak terkait,” imbuhnya.

Terkait dalil Pemohon yang mengungkap terjadi politik uang di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Sumatra Selatan untuk memenangkan capres nomor urut 2, menurut Mahkamah, dalil tersebut tidak ditunjukkan dengan keterangan saksi dan alat bukti memadai. Pemohon tidak melampirkan siapa yang memberi, kapan dan di mana uang tersebut diberikan, berapa jumlahnya, dan siapa yang menerima. Khusus di Kabupaten Sampang, Pemohon justru memenangkan hasil pilpres dengan 45 ribu suara, sedangkan Pihak Terkait hanya 17 ribu suara. “Hal ini menunjukkan indikasi politik uang yang dilakukan Pihak Terkait tidak benar,” tutur Hakim Konstitusi Arief Hidayat.

Keabsahkan Sistem Noken

Dalam pertimbangannya, Mahkamah juga menegaskan keabsahan sistem ikat atau noken yang digunakan di sejumlah daerah Provinsi Papua. Mahkamah mengatakan menghormati pemberian suara dengan sistem noken atau sistem ikat dalam Pilpres tahun 2014 dengan ketentuan sistem tersebut harus diadministrasikan dengan baik pada Formulir C1 di tingkat TPS sampai tingkat selanjutnya oleh penyelenggara Pemilu. Syarat ini penting dilakukan, terutama untuk menentukan keabsahan perolehan suara yang sekaligus untuk menghindarkan adanya kecurangan dalam penyelenggaraan Pilpres.

Dalam masa transisi dari sistem noken ke sistem pencoblosan, penyelenggaraan Pemilu didukung oleh seluruh pemangku kepentingan pun harus proaktif untuk mensosialisasikan dan menginternalisasikan sistem Pemilu yang dimuat oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di Papua telah dilaksanakan sesuai jadwal yang ditetapkan secara nasional, baik dengan sistem pencoblosan surat suara, maupun pemilihan dengan menggunakan sistem noken/ikat dengan berbagai variasinya yang telah diakui keabsahannya oleh Mahkamah selama ini,” ujar Arief.

Pelanggaran di Dogiyai Papua

Untuk Distrik Mapia Tengah dan Mapia Barat, Kabupaten Dogiyai, Mahkamah menyatakan telah terjadi pelanggaran. Hal tersebut terbukti berdasarkan keterangan Bawaslu yang dibenarkan oleh saksi Termohon dalam persidangan bahwa dua distrik yang bermasalah di Kabupaten Dogiyai adalah Distrik Mapia Tengah dan Distrik Mapia Barat.

Menurut keterangan saksi di persidangan, hingga H-2 proses rekapitulasi Pilpres, kedua distrik tersebut belum menerima logistik pemilu. Kendari ada pelanggaran, KPU Provinsi Papua tidak dapat melaksanakan rekomendasi Bawaslu untuk melakukan Pemilu susulan di dua distrik tersebut karena baru menerima rekomendasi tanggal 19 Juli 2015 sore, padahal tanggal 20 Juli 2014 dilakukan Rapat Pleno Rekapitulasi Penghitungan suara di tingkat KPU Pusat.

KPU Provinsi Papua tidak dapat melaksanakan rekomendasi Bawaslu Provinsi Papua karena logistik Pemilu tidak mencukupi untuk dilakukan Pemilu Susulan. Sekalipun KPU Provinsi Papua tidak dapat melaksanakan rekomendasi Bawaslu Provinsi Papua, namun KPU Provinsi Papua telah membawa permasalahan di Distrik Mapia Tengah dan Mapia Barat untuk dapat diselesaikan di Pleno KPU tingkat pusat. Pada saat permasalahan tersebut disampaikan dalam Pleno KPU tingkat pusat, Bawaslu memberikan pendapat agar perolehan suara di Distrik Mapia Tengah dan Mapia Barat di-nol-kan. (tidak dihitung)”.

Walaupun ada pelanggaran, Mahkamah tidak memerintahkan pemungutan suara ulang di dua distrik tersebut karena tidak akan mempengaruhi peringkat perolehan suara. “Menurut Mahkamah memang terbukti sebagian terjadi pelanggaran, namun seandainyapun Mahkamah memerintahkan supaya Termohon melakukan Pemungutan Suara Ulang di beberapa TPS di atas tidak akan dapat mengubah peringkat perolehan suara kedua pasangan calon,” tegasnya. (Lulu Hanifah/mh)

Secara lengkap Putusan Sidang Bisa klik di sini

sumber : Mahkamah Konstitusi

Google & Hari Guru Nasional


JAKARTA - Setiap tahun, 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Hal itu ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Google Indonesia demi menyambut Hari Guru tersebut dengan merias wajahnya sebagai berikut:

Google & Hari Guru

Namun, ada sejarah panjang hingga akhirnya 25 November terpilih sebagai Hari Guru Nasional. Selain Hari Guru Nasional, 25 November 1945 juga ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

PGRI diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912. Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu, maka selain PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.

Dua dekade berselang, nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia.

Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”

Sayang, pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang dan sekolah ditutup sehingga PGI tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Namun, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi dasar PGI untuk menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta.

sejarah-panjang-hari-guru-nasional-rYkcNzT8SVMelalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk.

Di dalam kongres inilah, tepatnya pada 25 November 1945, PGRI didirikan. Maka, sebagai penghormatan kepada para guru, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI tersebut sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati setiap tahun.

sumber tulisan : okezone, Sejarah Panjang Hari Guru Nasional

Google & Henri Marie Raymond de Toulouse-Lautrec-Monfa


Google & Henri Marie Raymond de Toulouse-Lautrec-MonfaHari ini, Senin (24/11/2014), tidak mau ketinggalan merayakan ulang tahun Henri Marie Raymond de Toulouse-Lautrec-Monfa atau yang terkenal dengan Henri de Toulouse-Lautrec ke-150. Siapakah dia?
Henri de Toulouse-Lautrec adalah seorang pelukis, zaman Renaisans, dan seorang ilustrator kehidupan Paris yang penuh dengan warna dan teater pada tahun 1800-an.
Ia selalu hadir dengan koleksi lukisan yang penuh dengan makna menarik, elegan, dan provokatif untuk mengubah kehidupan menjadi masyarakat modern sepereti yang dilansir dari Mirror.co.uk, Senin (24/11/2014).
Henri de Toulouse-Lautrec bersama dengan Cézanne, Van Gogh, dan Gauguin merupakan salah satu pelukis terkenal pada masa pasca impresionisme atau masa dimulainya pergerakan seni rupa di tahun 1800-an. Salah satu karya yang terkenal darinya adalah lukisan pesta dansa Moulin Rouge.

Seniman ini lahir pada tanggal 24 November 1864 dan meninggal dunia pada tahun 1901. Henri de Toulouse-Lautrec menderita kondisi kesehatan bawaan dari keluarga pernikahan sedarah. Kakinya berhenti tumbuh sehingga ia tergolong sebagai orang yang `kecil` atau biasa dikenal dengan manusia kerdil.

Henri de Toulouse-Lautrec meninggal karena adanya komplikasi akibat alkoholisme dan sifilis di Malromé, Prancis.
Pada lelang 2005 di rumah lelang Christie, ditetapkan rekor baru ketika salah satu lukisan sang seniman di google doodle ini dijual seharga USD $ 22,4 juta atau sekitar Rp 272 miliar.(jaz/isk)

Sumber: liputan6.com – Google Doodle Rayakan Ultah Henri de Toulouse-Lautrec ke-150

Negara yang Paling Islami di Dunia: Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.


asosiasi-mualaf-muslim-singapura-darul-arqam-_130314182724-226Hossein Askari, seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, AS, melakukan sebuah studi yang unik.

Askari melakukan studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini nilai-nilai Islam paling banyak diaplikasikan. Hasil penelitian Askari yang meliputi 208 negara itu ternyata sangat mengejutkan karena tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.

Dari studi itu, Askari mendapatkan Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru sebagai negara lima besar yang paling Islami di dunia. Negara-negara lain yang menurut Askari justru menerapkan ajalan Islam paling nyata adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara Islam? Malaysia hanya menempati peringkat ke-33. Sementara itu, negara Islam lain di posisi 50 besar adalah Kuwait di peringkat ke-48, sedangkan Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Askari mengatakan, kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara.

“Kami menggarisbawahi bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali tidak Islami,” ujar Askari.

Askari menambahkan, justru negara-negara Barat yang merefleksikan ajaran Islam, termasuk dalam pengembangan perekonomiannya.

“Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami,” lanjut Askari.

Dalam melakukan penelitiannya, Askari mencoba membandingkan idealisme Islam dalam hal pencapaian ekonomi, pemerintahan, hak rakyat dan hak politik, serta hubungan internasional.

Hasil penelitian Profesor Askari dan Profesor Scheherazade S Rehman ini dipublikasikan dalam Global Economy Journal.

Di Irlandia, diperkirakan sebanyak 49.000 warganya memeluk Islam. Dr Ali Selim, anggota senior Pusat Kebudayaan Islam Irlandia (ICCI), mengatakan, umat Muslim dan warga Irlandia lainnya bisa hidup berdampingan karena sama-sama memiliki kesamaan sejarah.

“Irlandia pernah menjadi wilayah jajahan dan banyak rakyat Irlandia menderita diskriminasi rasial dan selalu diasosiasikan dengan terorisme. Umat Muslim juga mengalami hal serupa,” ujar Selim.

Selain itu, lanjut Selim, para imigran Muslim di Irlandia mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri, termasuk dalam bidang ekonomi.

“Al Quran menganjurkan umat Muslim untuk hidup sejahtera dan Dublin merupakan salah satu pusat investasi Islam terbesar di Eropa,” ujar Selim.

(Sumber: Kompas.com, The Telegraph)

Google & Rosetta’s Historic Comet Landing


The European Space Agency’s Rosetta mission has been celebrated with its own Google DoodleGoogle & Probe makes historic comet landing

The Rosetta Mission‘s successful comet landing using the Philae space probe has been marked with its own Google Doodle.

The Doodle features an animated version of the Philae lander along with the tagline “first controlled touchdown on comet nucleus”.

It’s taken 10 years to get to this point, but now the Rosetta mission has achieved what no other mission has achieved before: it’s safely landed on a comet more than 300 million miles away and is now gathering as much data as possible about its new home.

Philae managed to land on a suitably flat part of the comet and then deploy harpoons to make sure it didn’t immediately bounce off the surface – although the European Space Agency has reported some problems with how the probe is anchored to the surface.Philae continue to study the comet it’s landed on and will send back data that should shed light on the origins of our solar system.

Follow the latest news from the Rosetta space probe on our live blog.

from: Philae: Google Doodle marks Rosetta’s historic comet landing 

Google & Niki de Saint Phalle’s 84th Birthday


Hari ini adalah hari ulang tahun Niki de Saint Phalle. Demi menyambut hari kelahirannya, Google menghias wajahnya:

Google & Niki de Saint PhaleNiki de Saint Phalle, born Catherine-Marie-Agnès Fal de Saint Phalle (29 October 1930 – 21 May 2002) was a French sculptor, painter, and film maker.

The early years

Niki de Saint Phalle was born in Neuilly-sur-Seine, Hauts-de-Seine, near Paris, to Count André-Marie Fal de Saint Phalle (1906–1967), a French banker, and his American wife, the former Jeanne Jacqueline Harper (1908–1980).[1][2][3] She had four siblings, and a double first cousin was French novelist Thérèse de Saint Phalle (Baroness Jehan de Drouas). After being wiped out financially during the Great Depression, the family moved from France to the United States in 1933, where her father worked as manager of the American branch of the Saint Phalle family’s bank. Saint Phalle enrolled at the prestigious Brearley School in New York City, but she was dismissed for painting fig leaves red on the school’s statuary. She went on to attend Oldfields School in Glencoe, Maryland where she graduated in 1947. During her teenaged years, Saint Phalle was a fashion model; at the age of eighteen, she appeared on the cover of Life (26 September 1949), and, three years later, on the November 1952 cover of French Vogue.

At eighteen, Saint Phalle eloped with author Harry Mathews, whom she had known since the age of twelve, and moved to Cambridge, Massachusetts. While her husband studied music at Harvard University, Saint Phalle began to paint, experimenting with different media and styles. Their first child, Laura, was born in April 1951.

Saint Phalle rejected the staid, conservative values of her family, which dictated domestic positions for wives and particular rules of conduct. Poet John Ashbery recalled that Saint Phalle’s artistic pursuits were rejected by members of Saint Phalle clan: her uncle “French banker Count Alexandre de Saint-Phalle, … reportedly takes a dim view of her artistic activities,” Ashbery observed.[4] However, after marrying young and becoming a mother, she found herself living the same bourgeois lifestyle that she had attempted to reject; the internal conflict, as well as reminiscences of her rape by her father when she was only 11 The Guardian 1999 caused her to suffer a nervous breakdown. As a form of therapy, she was urged to pursue her painting.

While in Paris on a modeling assignment, Saint Phalle was introduced to the American painter Hugh Weiss, who became both her friend and mentor. He encouraged her to continue painting in her self-taught style.

She subsequently moved to Deià, Majorca, Spain, where her son, Philip, was born in May 1955. While in Spain, Saint Phalle read the works of Proust and visited Madrid and Barcelona, where she became deeply affected by the work of Antonio Gaudí. Gaudí’s influence opened many previously unimagined possibilities for Saint Phalle, especially with regard to the use of unusual materials and objets-trouvés as structural elements in sculpture and architecture. Saint Phalle was particularly struck by Gaudí’s “Park Güell” which persuaded her to create one day her own garden-based artwork that would combine both artistic and natural elements.

Saint Phalle continued to paint, particularly after she and her family moved to Paris in the mid-1950s. Her first art exhibition was held in 1956 in Switzerland, where she displayed her naïve style of oil painting. She then took up collage work that often featured images of the instruments of violence, such as guns and knives.

In the late 1950s, Saint Phalle was ill with hyperthyroidism which was eventually treated by an operation in 1958. Sometime during the early 1960s, she left her first husband.[5]

Shooting Paintings and Nanas

Niki de Saint Phalle created “Shooting Paintings” in the early 1960s.[6] These pieces of art were polythene bags of paints in human forms covered in white plaster. The piece were shot at to open the bags of paint to create the image.

After the “Shooting paintings” came a period when she explored the various roles of women. She made life size dolls of women, such as brides and mothers giving birth. They were primarily made of plaster over a wire framework and plastic toys, then painted all white.

Niki in LIFEInspired by the pregnancy of her friend Clarice Price, the wife of American artist Larry Rivers, she began to use her artwork to consider archetypal female figures in relation to her thinking on the position of women in society. Her artistic expression of the proverbial everywoman were named ‘Nanas’. The first of these freely posed forms—made of papier-mâché, yarn, and cloth—were exhibited at the Alexander Iolas Gallery in Paris in September 1965. For this show, Iolas published her first artist book that includes her handwritten words in combination with her drawings of ‘Bananas’. Encouraged by Iolas, she started a highly productive output of graphic work that accompanied exhibitions that included posters, books, and writings.

In 1966, Saint Phalle collaborated with fellow artist Jean Tinguely and Per Olof Ultvedt (sv) on a large-scale sculpture installation, “hon-en katedral” (“she-a cathedral”) for Moderna Museet, Stockholm, Sweden. The outer form of “hon” is a giant, reclining ‘Nana’, whose internal environment is entered from between her legs. The piece elicited immense public reaction in magazines and newspapers throughout the world. The interactive quality of the “hon” combined with a continued fascination with fantastic types of architecture intensified her resolve to see her own architectural dreams realized. During the construction of the “hon-en katedral,” she met Swiss artist Rico Weber (de), who became an important assistant and collaborator for both de Saint Phalle and Jean Tinguely. During the 1960s, she also designed decors and costumes for two theatrical productions: a ballet by Roland Petit, and an adaptation of the Aristophanes play “Lysistrata.”

In 1971, Saint Phalle and Tinguely married.

The Tarot Garden

Main article: Giardino dei Tarocchi

Influenced by Gaudí´s Parc Güell in Barcelona, and Parco dei Mostri in Bomarzo, as well as Palais Idéal by Ferdinand Cheval, and Watts Towers by Simon Rodia, Niki de Saint Phalle decided that she wanted to make something similar; a monumental sculpture park created by a woman. In 1979, she acquired some land in Garavicchio, Tuscany, about 100 km north-west of Rome along the coast. The garden, called Giardino dei Tarocchi in Italian, contains sculptures of the symbols found on Tarot cards. The garden took many years, and a considerable sum of money, to complete. It opened in 1998, after nearly 20 years of work. Her main benefactor of the period was the Agnelli family.

Later years

Saint Phalle moved to California in 1994. On 17 November 2000 she became an honorary citizen of Hannover, Germany, and donated 300 pieces of her artwork to the Sprengel Museum. In 2001, she made another donation of 170 pieces to the Musée d’art moderne et d’art contemporain of Nice. Niki de Saint Phalle died of emphysema in California on 21 May 2002.

Public works

As a tribute to Niki de Saint Phalle, her work was on display outdoors in the center of Park Avenue from 52nd Street to 60th Street in New York City through November 2012.[7]

L'Ange Protecteur in the hall of the Zürich Hauptbahnhof

L’Ange Protecteur in the hall of the Zürich Hauptbahnhof

Many of Niki de Saint Phalle’s sculptures are large and some of them are exhibited in public places, including:

Literature

Film

Google & Hannah Arendt


Demi memperingati hari lahir Hannah Arendt, Google merias halamannya sebagai berikut:

Google & Hannah ArendtHannah Arendt (lahir di Linden, Hannover, 14 Oktober 1906 – meninggal di New York City, 14 Desember 1975 pada umur 69 tahun) adalah seorang teoretikus politik Jerman. Ia seringkali digambarkan seagai seorang filsuf, meskipun ia selalu menolak label itu dengan alasan bahwa filsafat berurusan dengan “manusia dalam pengertian singular.” Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang teoretikus politik karena karyanya berpusat pada kenyataan bahwa “manusia pada umumnya, bukan Manusia saja, hidup di muka bumi dan menghuni dunia ini.”

Arendt dilahirkan dalam keluarga Yahudi sekular di kota Linden yang waktu itu merupakan kota independen (kini bagian dari Hanover) dan dibesarkan di Königsberg (kota tempat tinggal pendahulunya yang dikaguminya, Immanuel Kant) dan Berlin. Ia belajar filsafat di bawah Martin Heidegger di Universitas Marburg, dan lama menjalin hubungan romantik yang sporadis dengannya. Hal ini telah banyak dikritik karena simpati Heidegger terhadap Nazi. Suatu kali ketika hubungan mereka terputus, Arendt pindah ke Heidelberg untuk menulis disertasi tentang konsep cinta-kasih dalam pemikiran Santo Augustinus, di bawah bimbingan filsuf-psikolog eksistensialis Karl Jaspers.

Disertasi itu diterbitkan pada 1929, namun Arendt dihalangi ketika ia ingin menyusun tulisan habilitasi – karya tulis sesudah penulisan disertasi yang merupakan prasyarat untuk mengajar di universitas Jerman – pada 1933 karena ia seorang Yahudi. Setelah itu ia meninggalkan Jerman dan pergi ke Paris. Di sana ia berjumpa dan bersahabat dengan kritikus sastra dan mistikus Marxis Walter Benjamin. Sementara di Prancis, Arendt bekerja untuk mendukung dan membantu para pengungsi Yahudi. Namun, karena sebagian wilayah Prancis diduduki militer Jerman setelah Prancis menyatakan perang pada Perang Dunia II, dan dideportasinya orang-orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi, Hannah Arendt harus melarikan diri dari Prancis. Pada 1940, ia menikah dengan penyair dan filsuf Jerman Heinrich Blücher. Pada 1941, Hannah Arendt melarikan diri bersama suami dan ibunya ke Amerika Serikat atas bantuan diplomat Amerika Hiram Bingham IV, yang secara ilegal mengeluarkan visa untuknya dan sekitar 2.500 orang pengungsi Yahudi lainnya. Kemudian ia menjadi aktif dalam komunitas Yahudi-Jerman di New York dan menulis untuk mingguan Aufbau.

Setelah Perang Dunia II ia melanjutkan hubungannya dengan, dan memberikan kesaksian untuknya dalam pemeriksaan denazifikasi Jerman. Pada 1950, ia menjadi warga negara AS berdasarkan naturalisasi, dan pada 1959 menjadi perempuan pertama yang diangkat ke dalam jabatan profesor penuh di Universitas Princeton.

Perangko Hannah ArendtKarya-karya Arendt membahas hakikat kuasa, dan topik-topik politik, wewenang, dan totalitarianisme. Banyak dari tulisannya terpusat pada pengukuhan konsepsi tentang kebebasan yang sinonim dengan aksi politik kolektif. Dalam argumentasinya melawan asumsi libertarian bahwa “kemerdekaan dimulai ketika politik berakhir,” Arendt menyusun teorinya tentang kemerdekaan yang bersifat publik dan asosiatif, dengan mengambil contoh-contoh antara lain dari polis Yunani, kota-kota Amerika, komun Paris, dan gerakan hak-hak sipil pada tahun 1960-an untuk menggambarkan konsepsi tentang kemerdekaan. Dalam laporannya mengenai pengadilan Eichmann untuk The New Yorker, yang kemudian berkembang menjadi buku Eichmann in Jerusalem, ia mengangkat pertanyaan apakah kejahatan itu bersifat radikal ataukan sekadar suatu fungsi dari keluguan — kecenderungan orang biasa untuk menaati perintah dan mengikuti pandangan masyarakat tanpa berpikir secara kritis tentang akibat dari tindakan atau kelalaian mereka untuk bertindak.

Ia juga menulis The Origins of Totalitarianism, yang menelusuri akar-akar komunisme dan nazisme dan kaitan mereka dengan anti-semitisme. Buku ini kontroversial karena membandingkan dua pokok yang sebagian orang percaya tidak dapat dipertemukan.

Ketika meninggal dunia pada 1975, Hannah Arendt dikebumikan di Bard College di Annandale-on-Hudson, New York, tempat suaminya mengajar selama bertahun-tahun.

Hannah ArendtKarya-karya terpilih

  • Der Liebesbegriff bei Augustin. Versuch einer philosophischen Interpretation [Pertobatan Augustinus: Suatu upaya interpretasi filsafati] (1929)
  • The Origins of Totalitarianism [Asal-usul Totalitarianisme] (1951)
  • Rahel Varnhagen: The Life of a Jewish Woman [Kehidupan seorang Perempuan Yahudi] (1958)
  • The Human Condition [Kondisi Manusia] (1958)
  • Between Past and Future [Antara Masa Lalu dan Masa Depan] (1961)
  • On Revolution [ Tentang Revolusi] (1963)
  • Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil [Laporan tentang Keluguan Kejahatan] (1963)
  • Men in Dark Times [Manusia pada Saat-saat Gelap] (1968)
  • Crises of the Republic: Lying in Politics; Civil Disobedience; On Violence; Thoughts on Politics and Revolution (1969) [Krisis Republik: Dusta dalam Politik]; [Ketidaktaatan Sipil]; [Tentang Kekerasan]; [Pemikiran tentang Politik dan Revolusi]
    “Civil Disobedience” aslinya muncul, dalam bentuk yang agak berbeda, dalam The New Yorker. Versi-versi dari esai-esainya yang lain aslinya muncul dalam The New York Review of Books.
  • The Jew as Pariah: Jewish Identity and Politics in the Modern Age [Orang Yahudi sebagai Bangsa Pariah: Identitas dan Politik Yahudi di Masa Modern]; Disunting oleh Ron H. Feldman (1978)
  • Life of the Mind [Kehidupan Pikiran] (1978)

Bacaan lebih lanjut

Young-Bruehl, Elisabeth, Hannah Arendt : For Love of the World, Yale University Press (1982). ISBN 0-300-02660-9. (Edisi cetak ulang sampul tipis, 10 September 1983, ISBN 0-300-03099-1; Edisi kedua 11 Oktober 2004 ISBN 0-300-10588-6.)

Google & Thor Heyerdahl


Hari ini demi memperingati hari kelahiran Thor Heyerdahl yang ke 100, Google merias wajahnya:

Google & Thor HeyerdahlThor Heyerdahl (Lahir: Larvik, Norwegia, 6 Oktober 1914. Meninggal: Colla Micheri, Italia April 18, 2002) adalah seorang petualang dan etnolog berkebangsaan Norwegia. Ia melakukan pelayaran untuk ekspedisi ilmiah melintasi samudera menggunakan rakit yang dikenal dengan nama Kon-Tiki pada tahun 1947. Thor Heyerdahl kemudian menuliskan kisah perjalanannya dalam sebuah buku dan buku tersebut berhasil menjadi buku dengan penjualan terbaik skala internasional.

Heyerdahl lahir pada tahun 1914 dan dibesarkan di Norwegia. Heyerdahl mengenyam pendidikan di Oslo University, di mana ia mempelajari tentang zoologi. Pada tahun 1936, Heyerdahl pergi berlayar dan tinggal di kepulauan Pasifik Fatu Hiva. Namanya terkenal di dunia karena perjalanannya menggunakan rakit Kon-Tiki dari Peru ke Pollinesia, Perancis pada tahun 1947. Pada tahun 1953, Heyerdahl memimpin ekspedisi arkeologi ke Kepulauan Galapagos. Dua tahun kemudian, ia melakukan perjalanan ke Pulau Paskah. Dalam tahun-tahun berikutnya, Heyerdahl meneliti tentang piramida di Peru dan Kepulauan Canary. Heyerdahl meninggal pada tahun 2002.