Mencari RI-2 di Mata Najwa


1. Selamat malam selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. #MN

2. Pemilu legislatif sudah selesai tapi pertarungan baru dimulai. #MN

3. Perhitungan suara belum rampung, gerak-gerik politik kian tak terbendung. #MN

4. Berdasarkan hitungan sementara, para pelobi langsung bergerilya. #MN

5. Para capres mulai sibuk bekerja, memilih dan mencari kandidat RI dua. #MN

6. Apakah ini koalisi untuk negeri atau sekadar memperebutkan posisi? #MN

ISI MENYUSUL

CATATAN NAJWA #MN

1. 200 juta lebih rakyat Indonesia, tak bisa diurus secara ala kadarnya. #MN

2. Dia yang akan memimpin negeri, harus punya partner yang bisa melengkapi. #MN

3. RI-2 bukan sekadar pembantu RI-1, jadi wapres mutlak harus orang bermutu. #MN

4. Karakter boleh saling berbeda, tapi visi jelas harus sama. #MN

5. RI satu dan dua pasti hasil koalisi, tapi jangan berhenti sekadar bagi-bagi posisi. #MN

6. Jumlah kursi pasti menentukan, tapi koalisi tak bisa abaikan kekompakan. #MN

7. Sebab koalisi mestinya didayagunakan, untuk mengawal dan menjaga kebijakan. #MN

8. Apalah arti pasangan yang populis, jika di tengah jalan saling mengiris. #MN

9. Karena menang pilpres hanya kerja pertama, memperbaiki negerilah yang jadi tugas utama. #MN

Terima kasih sudah menonton eps MENCARI RI 2. Ditunggu kritik dan sarannya.. :)

Etiskah Kopi Gratis dan Diskon untuk Pemilih?


Selain bisa mendapat hari libur tambahan, para pemilih pada pemilu legislatif tahun ini meraih beragam insentif, mulai dari kopi gratis di waralaba asing hingga diskon masuk ke tempat wisata.

ImageHanya dengan menunjukkan jari bertinta biru, tanda sudah mencoblos di tempat pemungutan suara, warga bisa menikmati berbagai fasilitas dan diskon yang ditawarkan belasan toko dan restoran.

Masyarakat pun menyambut insentif ini dengan antusias. Pengamat komunikasi budaya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia Devie Rachmawati mengatakan hal ini memang upaya bisnis yang memanfaatkan momentum.

“Hal ini menangkap perilaku konsumen masyarakat kita yang lekat dengan insentif baik dalam politik maupun sosial,” kata Devie.

Salah satu ‘bonus’ pemilih yang mendapat banyak perhatian di media sosial ialah diskon sebesar 30% dari produk kecantikan asal Inggris dan tawaran promosi beli 1 dapat 1 dari sebuah gerai kopi waralaba asal Amerika Serikat.

Tidak dipungkiri sifat konsumtif masyarakat Indonesia menjadi faktor yang membuat sistem insentif ini populer, kata Devie.

“Secara budaya memang masyarakat Indonesia masuk dalam masyarakat short-term society. Masyarakat jangka pendek itu yang menyebabkan angka tabungan rakyat Indonesia terendah di Asia dan itu ditandai dengan sifat konsumtif,” tandasnya.

Masyarakat jangka pendek juga dapat ditandai dari kecenderungan menggunakan sisi emosional.

Membangun budaya politik

Meski pun demikian, Devie melihat tidak ada yang salah secara etika.

Image

Insentif pemilih diharapkan bisa mengundang masyarakat untuk berpartisipasi.jpg

“Ini adalah konsep tanggung jawab sosial entitas bisnis untuk menyumbangkan apa yang bisa mereka sumbangkan agar membangun budaya politik Indonesia. Secara etika hal ini baik. Justru saya mendukung karena masyarakat kita baru sampai pada taraf itu,” kata Devie.

“Ini bantuan yang diberikan pebisnis untuk membantu negara agar masyarakat serius menentukan masa depannya dengan datang ke bilik suara dan bisa menikmati bonus bonus ekonomi.

“Dalam konteks membangun budaya politik bagi Indonesia yang sejarah politiknya sangat muda dibanding negara lain, ada baiknya dilakukan. Mudah mudahan ini bisa mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu,” tutupnya.

sumber : BBC Indonesia

Pengamat: Pemilih Indonesia Tidak Loyal


Berubahnya peta politik dalam hasil hitung cepat pemilu legislatif mencerminkan karakter pemilih Indonesia yang tidak loyal terhadap partai-partai lama, demikian menurut pengamat.

ImageGuru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga Ramlan Surbakti mengatakan kelompok pemilih yang tak loyal atau swinging voters di Indonesia mencapai 35%.

“Pemilih cenderung tidak percaya pada partai-partai politik lama. Ini terbukti sejumlah partai seperti Gerindra, Hanura, atau bahkan Nasdem memiliki hasil yang cukup bagus,” ujarnya kepada wartawan BBC Indonesia Christine Franciska.

Hasil hitung cepat CSIS

  1. PDI Perjuangan – 19%
  2. Golkar – 14%
  3. Gerindra – 11,8%
  4. Demokrat – 9,6%
  5. PKB – 9,2%

sumber: CSIS

“Pemilih indonesia masih gonta ganti pilihan,” tambahnya.

Hal ini didukung oleh data hitung cepat oleh CSIS yang menemukan bahwa sejumlah partai kecil ternyata menghimpun suara yang melebihi prediksi.

PDIP bergerak terlambat

Peneliti CSIS Tobias Basuki mengatakan suara partai kecil semakin menanjak karena kurang gesitnya PDI perjuangan meraih suara.

“Kelihatannya PDIP bergerak lebih terlambat, sehingga suara-suara itu diambil oleh partai kecil. Hal positifnya, koalisi dan pembagian jatah kekuasaan nantinya akan lebih ramai,” katanya.

Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei menempatkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu legislatif dengan persentase sekitar 19%.

Sementara itu, di tempat kedua dan ketiga ditempati Golkar dan Gerindra.

Adapun perolehan suara Partai Demokrat – yang populer dalam pemilihan umum 2009 – menurun drastis dan hanya berada di posisi empat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat – dalam pernyataannya Rabu (09/04) malam, mengakui kekalahan partainya dalam pemilu legislatif dan menyatakan siap menjadi partai oposisi.

sumber : BBC Indonesia

Pulitzer bidang fiksi diraih Donna Tartt


Penulis Donna Tartt mendapat penghargaaan bergengsi, Pulitzer, dalam kategori fiksi untuk novel ketiganya, The Goldfinch.

ImageThe Goldfinch, setebal 784 halaman, merupakan salah satu novel laris dunia dan meraih gelar Buku Pilihan 2013 dari Amazon.

Dengan latar belakang kawasan modern Manhtattan, New York, novel ini bertutur tentang seorang anak yang harus menghadapi kematian ibunya.

Universitas Colombia, yang menganugerahkan Pulitzer, mengatakan novel ketiga Donna Tartt itu ditulis dengan ‘amat indah, yang memicu akal dan menyentuh hati’.

Buku yang juga dicalonkan untuk penghargaan Bailey’s Women’s Prize for Fiction di Inggris ini, behasil mengalahkan dua calon lain untuk Pulitzer, yaitu The Son dari Philip Meyer dan The Woman Who Lost Her Soul karya Bob Shacochis.

Para penggemar Tartt menunggu sampai sekitar 10 tahun sejak terbitnya novel keduanya, The Little Friend -yang sempat mengecewakan penggemar- setelah novel pertamanya yang berhasil, The Secret Story.

“Satu satunya yang saya sayangkan adalah Willie Morris dan Barry Hannah tidak di sini,” tutur Tartt merujuk pada dua penulis yang menjadi pembimbingnya di awal karirnya.

Sementara itu Pulitzer untuk drama direbut Annie Baker dengan The Flick dan kategori puisi oleh Vijay Seshadri dengan karyanya 3 Sections.

Sejarahwan Amerika Serikat, Alan Taylor, mendapat Pulitzer yang kedua kalinya untuk bukunya The Internal Enemy: Slavery and War In Virginia.

Klik Untuk karya jurnalistisk, penghargaan direbut koran The GuardianKlik di Inggris dan Washington Post di Amerika Serikat karena peliputan tentang dokumen rahasia NSA tentang pengawasan dan penyadapan meluas, yang dibocorkan oleh Edward Snowden.

sumber : BBC Indonesia

Parpol Mulai Buka Diri untuk Koalisi


Setelah hasil quick count pemilu legislatif menunjukkan urutan partai dalam perolehan suara, saat ini koalisi mulai ramai dibicarakan oleh partai-partai politik.

— Menurut Ketua DPP PDIP, Effendi Simbolon, PDIP terbuka untuk berkoalisi dengan partai lain. Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi dan Ketua DPP Partai Golkar, Hajriyanto Thohari.
 
Dalam diskusi di Jakarta hari Kamis (10/4) mengenai  langkah selanjutnya seletah pemilu legislatif, muncul wacana koalisi parti peserta pemilu untuk mengusung calon presiden dan calon wakil presiden dalam pilpres 9 Juli mendatang.
 
Usai diskusi, Ketua DPP PDIP, Effendi Simbolon mengatakan meski hasil sementara perolehan suara teratas, PDIP tetap aktif melakukan komunikasi politik dengan partai-partai lain untuk kemungkinan dibentuk koalisi.
 
“Komunikasi harus kita buka, jangan terkunci karena kita juga tidak boleh overconfidence, kita harus low profile, kita harus jemput bola, memang harapan kita tentu kita bisa mengusung pak Jokowi sendiri walaupun nantinya ada bentuk koalisi di parlemen atau di kabinet tetapi saat-saat sekarang semua komunikasi harus dibuka, berpulang kepada seluruh elemen masyarakat, dia membutuhkan mayoritas dukungan rakyat, tidak bisa hanya PDI Perjuangan, dia harus didukung mayoritas untuk bisa mendapatkan mandat penuh menjadi Presiden Republik Indonesia,” kata Effendi.
 
Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi.
 “Kita terbuka kepada semua partai, jadi kita akan melihat siapa nanti yang paling bersedia untuk bisa mengangkat program Gerindra ini menjadi acuan utama untuk menyelesaikan masalah bangsa kedepan, transformasi bangsa yang dengan jelas bisa diukur bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kita bisa keluar dari kesulitan-kesulitan masalah kekurangan pangan, kekurangan air, energi, masalah transportasi, masalah pendidikan bangsa, masalah kerusakan lingkungan, masalah korupsi dan sebagainya,” paparnya.
 
Sementara Ketua DPP Partai Golkar, Hajriyanto Thohari mengakui Partai Golkar sempat terkejut dan khawatir dengan hasil beberapa lembaga survei yang mengatakan elektabilitas Partai Golkar menururn sehingga akan sulit memperoleh suara banyak dalam pemilu legislatif.

Namun, ditegaskannya sampai saat ini Partai Golkar belum bergeser dari posisi kedua perolehan suara setelah PDIP. Maka dari itu ditambahkannya, Partai Golkar akan lebih percaya diri dengan cara aktif berkomunikasi dengan rakyat dalam mengusung capres pada pemilu mendatang, bahkan aktif bertemu dengan partai-partai lain untuk membicarakan koalisi.
 
“Kita jangan terlalu mendewa-dewakan survey, elektabilitas itu kan hasil survei, sekarang sudah terbukti kok hasil survei itu tidak mencerminkan pemilu yang real, partai-partai Islam semua dikatakan akan mengalami declines dan decadence yang luar biasa, ternyata malah ada kecenderungan semakin menguat, demikian juga cara membaca survey terhadap calon Presiden tidak seperti itu, jadi jangan mendewa-dewakan survei,” ujar Hajriyanto. 
 
Meski partai-partai yang sementara memperoleh suara terbanyak menegaskan membuka diri untuk kemungkinan berkoalisi, mereka tetap mengusung Presiden yang sudah dicalonkan dan tidak akan pernah berubah pikiran menjadi cawapres,  baik Jokowi dari PDIP, Aburizal Bakrie dari Partai Golkar dan Prabowo dari Partai Gerindra.

sumber : VOA Indonesia

Popularitas Partai Islam Naik Pada Pileg 2014


Secara mengejutkan, perolehan total lima partai Islam naik menjadi 32 persen dari 26 persen pada 2009, menurut penghitungan cepat dari lembaga riset CSIS.

ImageSejumlah survei memperkirakan bahwa lima partai Islam yang ikut dalam pemilihan legislatif di Indonesia akan terus berkurang perolehan suaranya setelah bertahun-tahun mengalami penurunan.

Namun secara mengejutkan, perolehan total lima partai naik menjadi 32 persen dari 26 persen pada 2009, menurut penghitungan cepat dari lembaga riset CSIS.

Beberapa partai, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan perolehan lebih dari 9 persen, dapat memainkan peran penting dalam membentuk koalisi setelah pemilihan umum presiden Juli nanti.

Para analis mengatakan pergeseran tersebut disebabkan karena kegagalan berulang dari partai-partai sekuler untuk memberantas korupsi saat berkuasa, khususnya Partai Demokrat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kegagalan untuk membentuk pemerintahan yang bersih membuka pintu pada partai religius,” ujar profesor Jeffrey Winters, ahli Indonesia dari Northwestern University di Amerika Serikat.

Pemerintah sekuler telah gagal di Indonesia dalam putaran demi putaran, tambahnya. Partai Demokrat, terutama, telah dilanda banyak skandal korupsi, menyebabkan polularitasnya menurun dan hanya mendapat sekitar 10 persen suara dalam pemilihan kali ini. Para analis yakin banyak suaranya lari ke partai-partai Islam.

“Dukungan bagi partai Islam merefleksikan jatuhnya kepercayaan pada partai penguasa,” ujar Jajat Burhanudin, analis pada Center for the Study of Islam and Society.

Keberhasilan partai-partai Islam juga didorong oleh kegagalan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), yang meski berada dalam posisi teratas perolehan suara, gagal mencapai hasil yang diperkirakan.

PDI-P mendapat sekitar 19-20 persen, di bawah ekspektasi sekitar 25 persen. Beberapa mengatakan PDI-P telah gagal mengkapitalisasi popularitas kandidat presiden, Gubernur Jakarta Joko Widodo.

PKB memainkan strategi yang cukup pintar, menurut para analis, dengan menarik publisitas tinggi dengan menjadikan raja dangdut Rhoma Irama sebagai ikon dan calon presiden. Meski kecil kemungkinannya ia menjadi kepala negara, daya tariknya sebagai bintang menarik banyak massa.

Partai tersebut juga memperoleh dukungan dari Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar dengan sekitar 40 juta anggota, dan dukungan dana dari Rusdi Kirana, pendiri Lion Air yang juga wakil ketua PKB.

Bahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang diharapkan jatuh kinerjanya pada pemilu karena mantan presidennya dipenjara, mendapatkan 6,92 persen suara, atau kurang dari 1 persen penurunannya dari puncak prestasi mereka pada 2009.

Beberapa analis mengatakan saat ini partai-partai Islam tidak begitu berbeda dengan partai-partai lain, yang disebut “nasionalis sekuler.”

Partai-partai sekuler juga mencoba memenangkan suara Muslim. PDI-P, misalnya, memiliki sayap religius, dan sebaliknya partai-partai Islam dalam beberapa tahun terakhir mengurangi fokus pada agama dan lebih menaruh perhatian pada masalah sehari-hari.

Dalam minggu pertamanya setelah resmi diumumkan sebagai kandidat presiden bulan lalu, Joko Widodo menemui para pemimpin NU dan Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua dengan anggota sekitar 30 juta.

“Garis-garisnya telah memudar. Partai-partai Islam paham memainkan nasionalisme dan partai-partai nasionalis juga mencoba menunjukkan bahwa mereka memiliki ketertarikan religius. Jadi pada dasarnya orang memilih partai yang mereka suka,” ujar Noorhaidi Hasan, dosen Islam dan politik di Sunan Kalijaga Islamic University.

Dan para pemilih Muslim juga mencari partai yang dapat menyampaikan lebih daripada agama, ujar Greg Fealy, ahli Indonesia dari Australian National University.

“Sebagian besar Muslim mencari pengelolaan ekonomi yang baik, pemerintahan yang stabil,” ujarnya. (AFP)

sumber : VOA Indonesia

Microsoft Bikin Game “Hancurkan” Windows XP


ImageKOMPAS.com – Windows XP sudah “tamat”. Dukungan teknis terhadap sistem operasi tua berumur 13 tahun tersebut resmi dihentikan pada 8 April lalu.

Nah, Microsoft selaku pembuat Windows XP rupanya punya cara unik untuk mengucap selamat tinggal pada OS legendaris itu, yakni dengan membuat sebuah game bernama Escape from XP.

Sebagaimana dikutip dari Geek, game yang bisa dimainkan di situs Modern.ie ini akan “melempar” pemain ke dalam tampilan sebuah monitor CRT ala PC jadul.

Setelah melalui animasi booting Windows XP dan penyampaian cerita singkat melalui “layar error” blue screen of death, pemain yang berperan sebagai seorang pengguna setia Windows XP dan Internet Explorer 6 (browser default Windows XP) segera dibawa ke arena game.

Image

Escape from XP sendiri merupakan game side scrolling shooter yang akan langsung mengingatkan pada game tempo dulu macam Contra.

Di dalamnya, pemain menghadapi serbuan dari musuh berupa pasukan PC rongsokan dan tank internet explorer jahat. Instruksi untuk bermain tertera pada stiker post-it di sebelah kanan layar monitor “tabung”.

sumber : kompas.com

“Tokoh” lawas lain seperti Clippy (asisten dari suite Office 97) yang mengingatkan pada era Windows XP juga dihadirkan sebagai figur antagonis sehingga menguatkan kesan bahwa Microsoft memandang sistem operasi itu sebagai duri dalam daging.

Penasaran? Silakan coba Escape from Windows XP di browser melalui tautan ini.

Image