Melihat Kasus Sumber Waras dari sisi yang lain.


Oleh: Trie Sulistiowarni, SH Cagub DKI 2017

RS SUMBER WARAS

TRI SULIS

Tulisan ini berawal dari hasil audit BPK yang menyatakan ada kerugian negara 191 M dari pembelian lahan Sumber Waras oleh Pemprov DKI.

Melihat perkembangan berita di media tentang kasus Sumber Waras, akhirnya timbul niat saya untuk ikut memberikan ulasan singkat ini, dengan melihat kasus Sumber Waras dari sisi yang lain.

Kerugian tersebut menurut BPK karena adanya perbedaan NJOP. BPK menganggap letak lahan yang dibeli di JalanTomang Utara NJOPnya Rp 7.000.000 per M2. Sedang NJOP di jalan Kyai Tapa Rp 20.000.000 per M2. Dari perbedaan NJOP tersebut, Negara dirugikan Rp 493 M.

Atas permintaan KPK, BPK melakukan audit investigasi. Hasilnya negara dirugikan 191 M. Dasar penghitungan kerugian adalah membandingkan harga deal antara perusahaan Ciputra dengan Yayasan Sumber Waras yi 561 M. Hal tersebut sudah terbantahkan sebagaimana berita yang beredar bahwa letak tanah yang dibeli tersebut baik di Sertifikat dan PBB nya atas tanah ybs tertulis di Jl.Kyai Tapa dengan NJOP Rp 20.000.000 per M2. Saya hanya mereview singkat saja dari berita dan keterangan yang beredar.

Adapun NJOP 2014 sebesar Rp 20.000.000 per meter2 sudah ditetapkan pada akhir Desember 2013 oleh Pak Jokowi sebagai Gubernur DKI pada saat itu.

Singkatnya, unsur kerugian negara tidak terpenuhi kalau berdasarkan hasil audit BPK yang spt itu. Oleh sebab itu KPK pun belum menemukannya. Ada pihak yang mengatakan bahwa status tanahnya HGB yang akan berakhir pada tahun 2018. Jadi 2 tahun lagi tanah tersebut akan kembali ke negara.

Sehingga setelah berakhirnya HGB tanah atas nama Yayasan Sumber Waras tersebut Pemprov DKI bisa mengelolanya karena tanah sudah jatuh ke negara. Jadi Pemprov DKI bisa mengelola tanah yang bersangkutan tanpa harus membeli. Lah aturan dari mana itu? Kan pemegang haknya bisa mengajukan perpanjangan HGB.

Kalau unsur kerugian negara didasarkan pada perbedaan nilai NJOP, maka hasil audit BPK itu sudah terbantahkan. Selama ini banyak yang bertanya mengenai kasus Sumber Waras, yang bener yang mana sih?

Secara administrasi memang sudah dibuktikan dengan data-data yang ada berupa Sertifikat dan PBB, lokasi tanah di Jl.Kyai Tapa. Tidak terbukti pula adanya mark up harga dengan menaikkan NJOP secara tiba-tiba.

Karenanya sekarang BPK bergeser ke masalah kejanggalan pembayaran, yaitu dengan cek dan pada tanggal 31 Desember 2015 jam 19.45, ketika jam kerja bank sudah tutup. Masalahnya apakah yang dikatakan oleh Ketua BPK sebagai kejanggalan dalam cara pembayaran bisa masuk unsur merugikan negara.

Ditambah dengan bumbu-bumbu lainnya seperti yang mempermasalahkan HGB yang akan berakhir 2018. Apakah itu juga bisa memenuhi unsur kerugian negara? Karena ada yang mengatakan setelah berakhir HGB nya tanah jatuh ke negara.

Dengan demikian Pemprov DKI bisa mengelola tanah terssbut tanpa harus membeli. Benarkah pendapat seperti itu? Jelas ini pendapat yang keliru.

Pemilik tanah/pemegang HGB bisa memohon perpanjangan hak selama fisik masih dikuasai dan peruntukannya tidak berubah.

Dalam kasus Sumber Waras, pembelinya adalah Pemerintah yaitu Pemprov DKI, sesuai dengan ketentuan yg berlaku hanya bisa memegang Hak Pakai. Oleh karena itu peralihan haknya melalui Akta Pelepasan Hak bukan Akta Jual Beli, karena beda status antara penjual dan pembeli.

Pemerintah yang hanya bisa memperoleh hak pakai tidak mugkin membeli tanah dengan status HGB.

Dengan dibuatnya akta pelepasan hak artinya saat ini tanah sudah menjadi tanah negara yang dikuasai oleh Pemprov DKI sebagai pembeli

Proses selanjutnya Pemprov DKI mengajukan permohonan Hak Pakai kepada BPN setelah memenuhi berbagai persyaratan.

Tanahpun tdk sedang dalam sengketa seperti yg diberitakan. Karena Perjanjian Jual Beli antara YKSW dg perusahaan milik Ciputra telah dibatalkan kedua belah pihak manakala oleh Pemprov DKI peruntukan tanah tsb tdk bisa dirubah menjadi kawasan komersil. Jadi tetap harus untuk Rumah Sakit. Dan uang DP sebesar 50M oleh YKSW telah dikembalikan kpd perusahaan Ciputra tsb.

Sampai di situ, apakah kita bisa melihat terpenuhinya unsur kerugian negara? Maka kita jangan terjebak pada polemik seputar itu.

Coba kita simak sisi lain yaitu:

a.     Menurut hasil investigasi http://tempo.co dimuat tanggal 16 April 2016, pembayaran dilakukan dengan Cek sebesar Rp 717 M dan transfer sebesar Rp 37,7 M dari Rekening Dinkes DKI ke Rekening Yayasan Sumber Waras. Transfer Rp 37,7 M dari Rekening Dinkes DKI ke Rekening Yayasan Sumber Waras tersebut untuk pembayaran pajak. Di sinilah letak kejanggalannya. Dalam suatu peralihan hak atas tanah, bagi penjual atau yang menerima ganti rugi terhadap pelepasan hak wajib membayar PPh final 5%. Sedang untuk pembeli atau penerima hak atas tanah wajib membayar BPHTB sebesar 5% dari harga transaksi – NJOPTKP. Instansi Pemerintah dibebaskan dari kewajiban membayar BPHTB. Jadi yang ditransfer Dinkes DKI itu jelas kewajiban PPh final YKSW. Menurut berita-berita yang saya baca di media bahwa transfer untuk pembayaran pajak dilakukan sore sebelum pencairan cek malam harinya. Artinya apakah Dinkes DKI menalangi kewajiban pajak YKSW? Bagaimana ini bila ditinjau dari sistem keuangan negara?

b.     Sebelumnya tidak dilakukan kajian terlebih dahulu terhadap tanah yang akan dibeli sebagaimana ketentuan UU yang berlaku.

c.      Sempat ada penunjukan adik Gubernur Ahok sebagai Notaris seperti keterangan Dirut Sumber Waras, sekalipun akhirnya tidak jadi. Menurut Ahok adiknya tsb adl seorang pengacara bukan notaris. Kalau begitu utk urusan dan peran sebagai apa ketika namanya diajukan. Oleh siapa diajukannya.

d.     Setelah membeli lahan dengan harga hampir Rp 1 T, ternyata RS Kanker itu belum bisa dibangun oleh Pemprov DKI, itu kata sang Gubernur. Lho kok begitu? Ya karena pembangunan akan memakan waktu 2,5 tahun, dimana Pemprov DKI tidak bisa menggunakan anggaran Multi Years. Saat ini sedang dicari pengembang yang berminat untuk membangun RS Kanker itu. Apakah nantinya dengan sistem bagi hasil/BOT? Apakah berarti juga akan ada pihak lain lagi yg diuntungkan berkaitan dgn Sumber Waras ini.

Bukankah ini mubazir, beli tanah tapi tidak bisa membangunnya. Inilah yang perlu kita cermati bersama.

 

Maksud saya menulis ini agar pandangan kita terhadap kasus ini menjadi fokus dan terarah, tidak asal demo ke KPK. Sekalipun KPK belum menemukan adanya unsur kerugian negara, setidaknya terusik juga kita manakala uang negara yang notabene uang rakyat dipakai dengan semena-mena, dengan membungkus seolah-olah demi untuk kepentingan masyarakat. Uang segitu tuh amat bermanfaat untuk pembenahan kampung-kampung kumuh kalau tujuannya untuk mempercantik kota Jakarta dan memberdayakan ekonomi rakyat kecil. Daripada gusur2 teruuusss.

Sekian yang bisa saya sampaikan semoga manfaat.

Google & Anniversary Hedy Lamarr 101st Birthday


(CNN)She was a glamorous Hollywood actress who romanced Clark Gable, Spencer Tracy and Jimmy Stewart onscreen and was hailed as “the world’s most beautiful woman.”

But Hedy Lamarr was bored.

So in a private life more compelling than some of her movies, she dreamed up ways to fight the Nazis during World War II and earned a patent for an idea that laid the groundwork for such modern technologies as Bluetooth, GPs and Wi-Fi.

Lamarr, on what would have been her 101st birthday, was honored Monday with an animated doodle on Google’s search page. The jazzy clip pays homage to her remarkable double career — actress by day, inventor by night — and introduces the late star to a new generation at a time when the science and technology fields are struggling to attract women.

“She’s just so cool,” said Jennifer Hom of Google, who researched Lamarr’s life to create the animated clip. “She was very complicated and very accomplished at the same time.”

Born Hedwig Eva Maria Kiesler in Austria, Lamarr began working as an actress in Europe as a teenager and scandalized audiences in the Czech film “Ecstasy,” in which the camera lingered on her face as her character had an orgasm. She fled an abusive marriage in the late 1930s and came to Hollywood, where she changed her name to Hedy Lamarr, signed a contract with MGM and landed many roles as an exotic seductress.

Lamarr appeared onscreen regularly throughout the 1940s, most notably opposite Victor Mature in Cecil B. DeMille’s “Samson and Delilah.” But she grew weary of femme fatale roles that didn’t showcase her intelligence.

“Any girl can be glamorous. All you have to do is stand still and look stupid,” she famously said.

So during World War II, Lamarr drew upon her interest in science and military technology — gained in part through her first marriage to an arms dealer — to help devise a system to prevent the Nazis from blocking signals from radio-controlled Allied torpedoes. She teamed with composer George Antheil, a neighbor, to create a frequency-hopping system — based on the 88 keys in pianos — that would keep enemies from being able to detect the radio messages.

They received a patent for their idea, although the limitations of technology at the time prevented it from being implemented until after World War II. Still, their system would eventually form a basis for modern wireless communications technology, and Lamarr and Antheil were inducted into the National Inventors Hall of Fame in 2014.

As research for her Google doodle, Hom watched a lot of Lamarr’s movies and read books about her. She was impressed to learn the actress tinkered with mechanics and electrical engineering in her spare time and had a room in her home that was dedicated to inventing.

Hom’s doodle alternates between scenes of movie-star glamor and Lamarr’s sideline as an inventor. The actress looks bored in the back of a limo but perks up when she’s tinkering with theories in her lab.

“She was really curious and had an active intellect and she was always trying to learn,” said Hom, who spent two months full-time working on the doodle. “I like to think of her as superhero figure where you have a daytime personality and a nighttime personality.”

Lamarr died in 2000 at the age of 86. Who knows what kind of prescient tech entrepreneur she might have been as a young woman in the digital age?

One quote from the actress, found on her estate’s website, sounds like it could have been spoken yesterday.

“The world isn’t getting any easier. With all these new inventions I believe that people are hurried more and pushed more,” she said. “The hurried way is not the right way; you need time for everything — time to work, time to play, time to rest.”

take from : cnn.com

NASA Confirms Signs of Water Flowing on Mars, Possible Niches for Life


By KENNETH CHANG SEPT. 28, 2015

Scientists say these dark, narrow, downhill streaks are evidence of flowing water on Mars - Jet Propulsion Laboratory/University of Arizona, via NASA

Scientists say these dark, narrow, downhill streaks are evidence of flowing water on Mars – Jet Propulsion Laboratory/University of Arizona, via NASA

Scientists have for the first time confirmedliquid water flowing on the surface of present-day Mars, a finding that will add to speculation that life, if it ever arose there, could persist now.

“This is tremendously exciting,” James L. Green, the director of NASA’s planetary science division, said during a news conference on Monday. “We haven’t been able to answer the question, ‘Does life exist beyond Earth?’ But following the water is a critical element of that. We now have, I think, great opportunities in the right locations on Mars to thoroughly investigate that.”

That represents a shift in tone for NASA, where officials have repeatedly played down the notion that the dusty and desolate landscape of Mars could be inhabited today.

But now, John M. Grunsfeld, NASA’s associate administrator for science, talked of sending a spacecraft in the 2020s to one of these regions, perhaps with experiments to directly look for life.

“I can’t imagine that it won’t be a high priority with the scientific community,” he said.

Channels cut in the Martian surface as shot by NASA’s Mars Reconnaissance Orbiter in 2011 - NASA/Reuters

Channels cut in the Martian surface as shot by NASA’s Mars Reconnaissance Orbiter in 2011 – NASA/Reuters

Although Mars had rivers, lakes and maybe even an ocean a few billion years ago, the modern moisture is modest — small patches of damp soil, not pools of standing water.

In a paper published in the journal Nature Geoscience, scientists identified waterlogged molecules — salts of a type known as perchlorates — on the surface in readings from orbit.

“That’s a direct detection of water in the form of hydration of salts,” said Alfred S. McEwen, a professor of planetary geology at the University of Arizona, the principal investigator of images from a high-resolution camera on NASA’s Mars Reconnaissance Orbiter and one of the authors of the new paper. “There pretty much has to have been liquid water recently present to produce the hydrated salt.”

By “recently,” Dr. McEwen said he meant “days, something of that order.”

Scientists have long known that large amounts of water remain — but frozen solid in the polar ice caps. There have been fleeting hints of recent liquid water, like fresh-looking gullies, but none have proved convincing.

In 2011, Dr. McEwen and colleagues discovered in photographs from the orbiter dark streaks descending along slopes of craters, canyons and mountains. The streaks lengthened during summer, faded as temperatures cooled, then reappeared the next year.

They named the streaks recurring slope lineae, or R.S.L.s, and many thousands of them have now been spotted. “It’s really surprisingly extensive,” Dr. McEwen said.

Scientists suspected that water played a critical role in the phenomenon, perhaps similar to the way concrete darkens when wet and returns to its original color when dry.

But that was just an educated guess.

Lujendra Ojha, a graduate student at the Georgia Institute of Technology, turned to an instrument on the orbiter that identifies types of molecules by which colors of light they absorb. But this instrument, a spectrometer, is not as sharp as the camera, making it hard to zoom in on readings from the narrow streaks, a few yards across at most.

“We had to come up with new techniques and novel ways to do analysis of the chemical signature,” said Mr. Ojha, the lead author of the Nature Geoscience article.

The researchers were able to identify the telltale sign of a hydrated salt at four locations. In addition, the signs of the salt disappeared when the streaks faded. “It’s very definitive there is some sort of liquid water,” Mr. Ojha said.

Dark narrow streaks, up to a few hundred yards long, are seen along many slopes on Mars including Garni Crater. The identification of waterlogged salts in these streaks fits with the idea that they are formed by the underground flow of briny water that wets the surface. - Jet Propulsion Laboratory/University of Arizona/NASA

Dark narrow streaks, up to a few hundred yards long, are seen along many slopes on Mars including Garni Crater. The identification of waterlogged salts in these streaks fits with the idea that they are formed by the underground flow of briny water that wets the surface. – Jet Propulsion Laboratory/University of Arizona/NASA

The perchlorate salts lower the freezing temperature, and the water remains liquid. The average temperature of Mars is about minus 70 degrees Fahrenheit, but summer days near the Equator can reach an almost balmy 70.

Many mysteries remain. For one, scientists do not know where the water is coming from.

“There are two basic origins for the water: from above or from below,” Dr. McEwen said. The perchlorates could be acting like a sponge, absorbing moisture out of the air, but measurements indicate very low humidity on Mars — only enough for 10 microns, or about 1/2,500th of an inch, of rain across the planet if all of the wetness were wrung out of the air.

That idea cannot be ruled out if the lower part of the atmosphere turns out more humid than currently thought.

“We have very poor measurements of relative humidity near the surface,” Dr. McEwen said.

The other possibility is underground aquifers, frozen during winter, melting during summer and seeping to the surface.

Liquid water is considered one of the essential ingredients for life, and its presence raises the question of whether Mars, which appears so dry and barren, could possess niches of habitability for microbial Martians.

Christopher P. McKay, an astrobiologist at NASA’s Ames Research Center in Mountain View, Calif., does not think the recurring slope lineae are a promising place to look. For the water to be liquid, it must be so salty that nothing could live there, he said. “The short answer for habitability is it means nothing,” he said.

He pointed to Don Juan Pond in Antarctica, which remains liquid year round in subzero temperatures because of high concentrations of calcium chloride salt. “You fly over it, and it looks like a beautiful swimming pool,” Dr. McKay said. “But the water has got nothing.”

Others are not so certain. David E. Stillman, a scientist at the Southwest Research Institute’s space studies department in Boulder, Colo., said water for the streaks might be different in different regions. In some, they form only during the warmest times, suggesting that those waters might not be too salty for microbes.

“If it was too salty, they would be flowing year round,” Dr. Stillman said. “We might be in that Goldilocks zone.”

Even though recurring slope lineae appear to be some of the most intriguing features on Mars, NASA has no plans to get a close-up look anytime soon.

They are treated as special regions that NASA’s current robotic explorers are barred from because the rovers were not thoroughly sterilized, and NASA worries that they might be carrying microbial hitchhikers from Earththat could contaminate Mars.

Of the spacecraft NASA has sent to Mars, only the two Viking landers in 1976 were baked to temperatures hot enough to kill Earth microbes. NASA’s next Mars rover, scheduled to launch in 2020, will be no cleaner. Sterilizing spacecraft, which requires electronics and systems that can withstand the heat of baking, adds to the cost and complicates the design.

In selecting the landing site for the 2020 rover, the space agency is ruling out places that might be habitable, including those with recurring slope lineae.

That prohibition may continue even though two candidate streaks have been identified on the mountain in Gale Crater that NASA’s Curiosity rover is now exploring, a mile or two from its planned path.

NASA and the Curiosity team could decide to approach the streaks without driving onto them, or to simply observe from a distance. The rover is still probably a couple of years away.

NASA officials did not reject the possibility of a detour, although they said it would require analysis and debate.

In an interview after the news conference, Dr. Green of NASA said that if the streaks in Gale Crater turned out to be recurring slope lineae, the space agency would consider how great a contamination threat Curiosity, irradiated by ultraviolet light for several years, might pose to a potential Martian habitat.

“If we can go within 20 meters, we can zap it with a laser,” Dr. Green said, referring to an instrument that identifies material inside a rock by the colors of light it emits as it is vaporized. “Then we can learn much more about the details what’s in those R.S.L.s. If we can get closer and actually scoop it up, that would be even better.”

A version of this article appears in print on September 29, 2015, on page A1 of the New York edition with the headline: Liquid Water, and Prospects for Life, on Mars. Order ReprintsToday’s Paper|Subscribe

From : The New York Times

Google & HUT ke-22 Roti Baguette


google-peringati-22-tahun-resminya-simbol-budaya-prancis-baguette

Hari ini, (13/09), netizen bisa melihat logo (doodle) spesial Google yang bergambar seorang koki tengah memanggang roti. Ternyata, logo tersebut merupakan bentuk ucapan selamat Google untuk ulang tahun peresmian Baguette, roti ‘tongkat’ dengan panjang bisa mencapai 1 meter khas Prancis.

Bila Anda melihat bagian atas logo Google itu, terdapat tulisan ‘Decret Pain’, apa itu? Decret Pain adalah aturan pengolahan roti Baguette yang dikeluarkan oleh pemerintah Prancis tanggal 13 September 1993, 22 tahun lalu.

Aturan itu menyebutkan bila para perajin roti Baguette harus mematuhi semua standar pembuatan Baguette, yang paling utama adalah Baguette hanya boleh dibuat dari 4 bahan. Antara lain, tepung gandum, air, garam, dan ragi.

Para pengrajin juga dilarang keras menambahkan bahan pengawet, zat adiktif, atau membekukan Baguette. Alhasil, roti Baguette selalu dikenal dijual ‘fresh-baked’ dan hanya bisa bertahan kurang dari 24 jam.

Kemunculan Decret Pain juga menjadi tanda resminya roti Baguette sebagai simbol budaya Prancis, setelah sebelumnya sering diperdebatkan apakah Baguette asli dari Prancis atau tidak.

Roti khas Perancis yang paling digemari.  via howtofeedaloon.comRoti yang mempunyai bentuk panjang seperti tongkat dan bagian luar renyah ini memang banyak dibuat di negara-negara lain, mulai dari Austria hingga Vietnam. Oleh karena itu, pemerintah Prancis merasa perlu membuat sebuah aturan yang menonjolkan kekhasan Baguette Prancis lewat Decret Pain.

 Sumber : Merdeka.com

Google Gonta Ganti logo 1998 – 2015


Google-ganti-logoGoogle baru saja mengganti logo mereka dengan logo yang baru dan mengumumkan kepada dunia melalui gambar animasi Google Doodle yang menceritakan “riwayat logo google” di halaman depan situs mesin pencari mereka.

Google hari ini resmi mengganti logo mereka. Dalam mengenang kembali perkembangan Google hingga tumbuh menjadi perusahaan teknologi raksasa sekarang ini. Ada banyak hal dilalui oleh pendirinya Larry Page dan Sergey Brin termasuk bergantinya logo Google beberapa kali sejak sekitar 18 tahun yang lalu. , Google pun menceritakan riwayat logo Google di halaman depan website mereka.

Menurut informasi yang dilansir dari Google menggunakan kata kunci pencarian “Riwayat logo Google” yang juga bisa dibuka dengan mengklik Google Doodle di halaman depan situs ini, mesin pencari ini menceritakan perubahan logo mereka sejak tahun 1998 lalu, dimana saat itu Google hanya berupa proyek kelulusan Sergey Brin dan Larry Page di Universitas Stanford.

01 - Logo Google 1998Setelahnya masih di tahun yang sama pada tanggal 30 Agustus 1998, tim ini pun memutuskan untuk mengubah logo mereka menjadi seperti dibawah. Ada makna dibalik penggunaan logo mereka yang memiliki arti bahwa ia sedang tidak di kantor, karena sedang menghadiri festival Burning Man, dan inilah Doodle pertama yang digunakan Google.
02 - Google Agustus 1998Masih tetap di tahun yang sama – 1998, Google kembali mengganti logo mereka dengan logo yang baru seperti dibawah seiring dengan dirilisnya versi beta dari Google. Situs mesin pencari raksasa ini pun mengudara dengan menggunakan nama domain Google.com dan sudah bisa diakses diseluruh dunia.
03 - Google September 1998Lalu satu tahun setelahnya pada bulan Mei 1999, Google kembali mengganti logo mereka dengan yang baru menggunakan rupa huruf Catull. Logo ini tetap menggambarkan keceriaan dengan warna-warni di masing-masing hurufnya dan terdapat bayangan jatuh.

04 - Google Mei 1999Pada tahun 2010, logo Google menjadi semakin terang dengan mengurangi efek bayangan jatuh.05 - Google Mei 2010

Google pun semakin menyederhanakan logonya pada tahun 2013 dengan membuatnya terlihat datar dan sedikit menyesuaikan tipografinya.

06 - Google September 2013Lalu hari ini, tepat pada pukul 00.01 Google mengganti logo baru mereka dengan logo yang baru. Logo baru ini masih tetap dengan warna-warni ceria di setiap huruf yang membentuk kata “Google”. Logo baru ini menjadikan huruf “G” sebagai ikon mereka dan logo yang mencakup titik-titik Google ini menjadi bagian dari keluarga baru Google.

07 -Google September 2015Jadi, dari sekian banyak perubahan logo yang dilakukan Google, rasanya inilah perubahan paling besar dari desain logo mereka. Bagaimana menurut anda?

Sumber : Kolom Gadget

Google & Kahanamoku


Google & KahanamokuHari ini Google merayakan HUT Kahanamoku yang ke-125. Siapakah dia, sampai Google menghias wajahnya seperti gambar di atas?

Duke Paoa Kahinu Mokoe Hulikohola Kahanamoku (24 Agustus 1890 – 22 Januari 1968) adalah seorang perenang kompetisi Hawaii Amerika yang juga dikenal sebagai aktor, penegak hukum, awal voli pantai player dan pengusaha dikreditkan dengan menyebarkan olahraga selancar. [2 ] Kahanamoku adalah lima kali Olimpiade peraih medali di kolam.

Awal tahun

Townplace nya dibantah dengan berbagai sumber menyatakan Haleakala di Maui atau Waikiki di Oahu. Menurut Kahanamoku, ia menyatakan ia lahir di Honolulu pada Hale’ākala, rumah Bernice Pauahi Uskup yang kemudian diubah menjadi Arlington Hotel. [3] Ia memiliki lima saudara dan tiga saudara perempuan, termasuk Samuel Kahanamoku. Pada tahun 1893, keluarganya pindah ke Kalia, Waikiki (dekat lokasi sekarang dari Hilton Hawaiian Village), untuk lebih dekat dengan orang tua ibunya dan keluarga. Duke dibesarkan dengan saudara-saudaranya dan 31 Paoa sepupu. [2]: 17 Duke menghadiri Waikiki Grammar School, Kaahumanu Sekolah, dan Sekolah Kamehameha., Meskipun ia tidak pernah lulus karena dia telah berhenti untuk membantu mendukung keluarga [4]

Duke Kahanamoku Hall of Fame Olympic Card“Duke” bukanlah judul atau nama panggilan, tetapi nama yang diberikan. Dia bernama setelah ayahnya, Duke Kahanamoku Halapu,yang dibaptis oleh Bernice Pauahi Uskup menghormati Prince Alfred, Duke of Edinburgh, yang sedang mengunjungi Hawaii pada waktu itu. The Duke muda, sebagai anak sulung, mewarisi nama. Ayahnya adalah seorang polisi. Ibunya Julia Pa ‘akoniaLonokahikina Paoa adalah seorang wanita yang sangat religius dengan rasa yang kuat dari keturunan keluarga.

Ketika Duke menjadi nama rumah tangga karena prestasi renangnya, banyak orang menganggap dia dari royalti Hawaii.Diasumsikan oleh banyak bahwa ia adalah duke dan bahwa itu adalah gelarnya. Dia adalah orang yang sangat sederhana dan sederhana yang mendapat tertawa dari yang dianggap sebagai royalti dan tidak pernah ragu-ragu untuk meluruskan tentang garis keturunannya. [4]

Meskipun tidak dari Hawaii keluarga kerajaan, orang tuanya berasal dari keluarga Hawaiian menonjol; yang Kahanamoku dan klan Paoa dianggap kepala atau bangsawan, yang pelayanan kepada nui Ali’i atau royalti berpangkat rendah. [3] kakek dari pihak ayahnya adalah Kahanamoku dan nenek, Kapiolani Kaoeha, [5] keturunan Raja Alapainui . Mereka Kahu, pengikut dan penasihat terpercaya dari Kamehamehas, di antaranya mereka yang terkait dengan. Pihak ibu kakek-nenek Paoa, anak Paoa Hoolae dan Hiikaalani, dan Mele Uliama juga keturunan terutama. [2]: 9 [6]

Tumbuh di pinggiran Waikiki, Kahanamoku menghabiskan masa mudanya sebagai beach boy perunggu. Pada Waikiki Beach ia mengembangkan berselancar dan berenang keterampilan. Di masa mudanya, Kahanamoku disukai papan surfing tradisional, yang ia sebut nya “papa nui”, dibangun setelah fashion kuno Hawaii “olo” papan. Terbuat dari kayu dari koa pohon, itu 16 kaki (4,9 m) panjang dan beratnya £ 114 (52 kg). Papan itu tanpa skeg, yang belum ditemukan. Dalam karir di kemudian hari, ia sering akan menggunakan papan kecil tapi selalu disukai yang terbuat dari kayu.

The Salt Lake Tribune featuring Duke Kahanamoku in 1913Pada tanggal 11 Agustus 1911, Kahanamoku itu waktunya di 55,4 detik di 100 yard (91 m) gaya bebas, mengalahkan rekor dunia yang ada dengan 4,6 detik, dalam air garam dari Honolulu Harbor. Ia juga memecahkan rekor di 220 yd (200 m) dan menyamai dalam 50 yd (46 m). Tapi Amateur Athletic Union (AAU), tak percaya, tidak akan mengakui prestasi ini sampai bertahun-tahun kemudian. AAU awalnya mengklaim bahwa hakim harus telah menggunakan jam alarm daripada stopwatch dan kemudian mengklaim bahwa arus laut dibantu Kahanamoku. [7]

Karir dan warisan

Kahanamoku mudah memenuhi syarat untuk tim renang Olimpiade AS pada tahun 1912. Pada Olimpiade 1912 di Stockholm, ia memenangkan medali emas di 100 meter gaya bebas, dan medali perak dengan kedua tempat tim AS di pria 4×200 meter gaya bebas estafet. Selama Olimpiade 1920 di Antwerp, ia memenangkan medali emas baik di 100 meter (memperbaiki sesama Hawaii Pua Kealoha)dan relay. Dia selesai 100 meter dengan medali perak selama Olimpiade 1924 di Paris, dengan emas akan Johnny Weissmuller dan perunggu untuk saudara Duke, Samuel Kahanamoku. Pada usia 34, ini adalah medali Olimpiade terakhir Kahanamoku ini. [1] Ia juga merupakan alternatif untuk tim polo air AS di Olimpiade 1932.

Antara kompetisi Olimpiade, dan setelah pensiun dari Olimpiade, Kahanamoku perjalanan internasional untuk memberikan pameran berenang. Ia selama periode ini bahwa ia mempopulerkan olahraga surfing, yang sebelumnya hanya dikenal di Hawaii, dengan memasukkan berselancar pameran ke kunjungan ini juga. Pameran berselancar nya di Sydney Freshwater Pantai di 24 Desember 1914 secara luas dianggap sebagai acara mani dalam pengembangan berselancar di Australia. [8] Dewan yang Kahanamoku dibangun dari sepotong pinus dari toko perangkat keras lokal dipertahankan oleh Freshwater yang Surf Club. Ada patung Kahanamoku di Tanjung Utara Freshwater Beach, New South Wales. Dia membuat berselancar populer di daratan Amerika pertama tahun 1912 sementara di Southern California.

Selama waktunya tinggal di Southern California, Kahanamoku dilakukan di Hollywood, sebagai aktor latar belakang dan karakter aktor dalam beberapa film. Dengan cara ini, ia membuat hubungan dengan orang-orang yang lanjut bisa mempublikasikan olahraga surfing.Kahanamoku terlibat dengan Los Angeles Athletic Club, bertindak sebagai lifeguard dan bersaing di kedua tim renang dan polo air.

Meskipun tinggal di Newport Beach, California pada 14 Juni, 1925, Kahanamoku diselamatkan delapan orang dari sebuah kapal nelayan yang terbalik di surfing berat ketika mencoba untuk memasuki pelabuhan kota. [9] 29 nelayan pergi ke dalam air dan 17 tewas.Menggunakan papan selancar, ia mampu membuat perjalanan cepat bolak-balik ke pantai untuk meningkatkan jumlah pelaut diselamatkan. [10] Dua peselancar lainnya menyelamatkan empat nelayan lebih. Kepala polisi Newport pada saat yang disebut upaya Duke “paling super tindakan penyelamatan papan selancar dunia yang pernah ada.”

Pada tahun 1940, ia menikah Nadine Alexander, yang menemaninya saat dia bepergian. Kahanamoku adalah orang pertama yang akan dilantik menjadi baik Swimming Hall of Fame dan Surfing Hall of Fame. The Duke Kahanamoku Invitational Surfing Championships yang dinamai untuk menghormatinya. Dia adalah anggota dari Olympic Hall of Fame US. Ia menjabat sebagai sheriff dari Honolulu, Hawaii1932-1961, melayani 13 kali berturut-turut. Selama periode ini, ia juga muncul dalam sejumlah program televisi dan film, seperti Pak Roberts (1955).

Kahanamoku adalah seorang teman dan berselancar pendamping dari pewaris Doris Duke, yang membangun rumah (sekarang museum) di Oahu bernama Shangri-la.

Promotor musik Hawaii Kimo Wilder McVay memanfaatkan popularitas Kahanamoku oleh penamaan showroom Waikiki nya “Kahanamoku itu”, dan memberikan Kahanamoku sepotong tindakan keuangan dalam pertukaran untuk penggunaan namanya. Itu adalah showroom besar Waikiki pada tahun 1960 dan dikenang sebagai rumah dari Don Ho & The Aliis dari 1964 sampai 1969.

Nama Kahanamoku ini juga digunakan oleh Duke Canoe Club & Barefoot Bar, bar tepi pantai dan restoran di Outrigger Waikiki On The Beach Hotel. Ada rantai restoran bernama setelah dia di California dan Hawaii disebut Duke. Sebuah patung perunggu di Pantai Waikiki di Honolulu menghormati ingatannya. Ini menunjukkan Kahanamoku berdiri di depan papan selancar dengan tangan terentang. Banyak menghormatinya dengan menempatkan leis pada patungnya. Ada webcam menonton patung, yang memungkinkan pengunjung dari seluruh dunia untuk gelombang ke teman-teman mereka.

Pada tanggal 24 Agustus 2002, yang juga merupakan ulang tahun ke-112 kelahiran Kahanamoku, sebuah 37c tingkat surat kelas prangko dari Amerika Serikat Postal Service dengan gambar Duke pada, dikeluarkan. Hari Pertama Upacara diadakan di Hilton Hawaiian Village di Waikiki dan dihadiri oleh ribuan. Pada upacara ini, peserta bisa melampirkan cap Duke untuk amplop dan mendapatkannya dibatalkan dengan Hari Pertama Issue cap pos. Hari Pertama ini Meliputi sangat tertagih. [11]

Duncan v. Kahanamoku

Kahanamoku adalah pro forma terdakwa dalam tengara Mahkamah Agung kasus Duncan v. Kahanamoku. Sementara Kahanamoku adalah polisi militer petugas selama Perang Dunia II, ia ditangkap Duncan untuk keracunan publik. Pada saat itu, Hawaii, belum negara, sedang diberikan di bawah Organik Act Hawaii yang secara efektif menetapkandarurat militer di pulau. Oleh karena itu Duncan diadili oleh pengadilan militer dan mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Dalam post hoc putusan, pengadilan memutuskan bahwa pengadilan oleh pengadilan militer itu, dalam kasus ini, tidak konstitusional. [12]

Kematian

Kahanamoku meninggal karena serangan jantung pada tanggal 22 Januari, 1968 di usia 77. [13] Untuk itu penguburan di laut iring-iringan panjang pelayat, disertai dengan pengawalan polisi 30 orang, pindah di kota ke Waikiki Beach. Pendeta Abraham Akaka, pendeta dari Gereja Kawaiahao, dilakukan layanan. Sekelompok beach boys menyanyikan lagu-lagu Hawaii, termasuk “Aloha Oe”. Abunya tersebar ke laut.

Sumber : wikipedia